Penulis
"Keselamatan publik adalah prioritas utama, mengingat taksi terbang adalah transportasi publik yang mengangkut nyawa manusia, bukan sekadar barang," cetus Ale.
Ale menyebutkan bahwa EHang dan taksi terbang Hyundai memiliki perbedaan dalam kapasitas dan tujuan penggunaan.
EHang 216-S lebih cocok untuk transportasi privat dengan kapasitas kecil, sementara Hyundai menawarkan kapasitas lebih besar (5 penumpang) untuk transportasi publik.
Keduanya memiliki opsi otonom dan manual, tetapi keandalan teknologi masih memerlukan kajian mendalam.
Namun demikian, Ale menolak membandingkan keduanya secara langsung, dan mengibaratkannya seperti membandingkan "apel dan jeruk" karena perbedaan konteks dan kapasitas.
Baca juga: Otorita IKN: Komersialisasi Taksi Terbang Perlu Kajian Lebih Lanjut
Dengan target komersialisasi pada 2029, taksi terbang di IKN diharapkan menjadi simbol kemajuan teknologi Indonesia.
EHang 216-S, dengan uji coba yang sukses bersama Raffi Ahmad, telah membuktikan potensinya. Namun, keberhasilan penuh bergantung pada penyusunan regulasi yang matang, jaminan keselamatan, dan kesiapan infrastruktur.
Seperti yang dikatakan Ale, ini bukan hanya soal efisiensi waktu dan biaya, tetapi juga keselamatan publik sebagai prioritas utama.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.