Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anggota DPR Minta IKN Dievaluasi, Beban Biaya Membengkak

Kompas.com, 11 Agustus 2025, 15:51 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Wacana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur kembali dipertanyakan.

Untuk itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, secara tegas meminta pemerintah untuk mengevaluasi rencana tersebut.

Menurutnya, pemindahan ibu kota berpotensi membebani rakyat dengan biaya transportasi dan akomodasi yang sangat mahal, serta infrastruktur yang belum memadai.

Baca juga: Selangkah Lagi, Uang Tunai Tak Berlaku di IKN

Kritik Bambang ini menyoroti perbandingan tajam antara Jakarta dan IKN, terutama dari segi aksesibilitas.

Jakarta: Pusat Pemerintahan yang Mudah Diakses

Bambang Haryo menyoroti keunggulan Jakarta yang selama ini sudah teruji. Dengan populasi harian mencapai 10 juta orang, Jakarta memiliki beragam moda transportasi yang memadai, mulai dari kereta, bus, hingga akses pejalan kaki yang terintegrasi.

"Hal ini membuat pergerakan jutaan orang untuk urusan pemerintahan dan bisnis bisa berlangsung dengan efisien dan biaya terjangkau," ujar Bambang, dikutip Kompas.com dari Antara, Senin (11/8/2025).

Baca juga: Jadi Lumbung Pangan, Kukar Siap Layani Kebutuhan Warga IKN

Sebaliknya, Bambang menilai IKN masih jauh dari kata siap. Jika ibu kota pindah, masyarakat dari seluruh Indonesia yang memiliki kepentingan di pusat pemerintahan akan kesulitan dan harus mengeluarkan biaya besar.

Bambang pun menyodorkan angka-angka komparatif. Jika 2 juta orang harus mengakses IKN menggunakan pesawat dengan tarif Rp 1,5 juta, maka biaya transportasi harian mencapai Rp 3 triliun per hari.

Jumlah ini belum termasuk biaya penginapan, yang diperkirakan akan membuat masyarakat menghabiskan triliunan rupiah per tahun hanya untuk bepergian.

Infrastruktur Terbatas

Selain biaya, Bambang juga menyoroti keterbatasan infrastruktur transportasi di Kalimantan Timur.

Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) di Balikpapan hanya mampu menampung 30 pesawat, sementara Bandara IKN yang baru dibangun hanya bisa menampung 600 penumpang per hari.

Baca juga: IKN Ajak Dunia Cicipi Liberika, Kopi yang Tumbuh di Lahan Gambut

"Belum lagi wilayah Sumatera, Sulawesi, Bali, dan NTT yang akan menuju ke IKN, mau ditampung di mana dan menggunakan transportasi apa? Ini yang harus dikaji mendalam," tegas Bambang.

Bambang pun mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang secara cermat rencana pemindahan ini.

Ia khawatir, alih-alih memberikan pemerataan pembangunan, kebijakan ini justru akan "menyulitkan dan menyengsarakan rakyat" dengan beban biaya yang tidak realistis.

Kontroversi ini menambah daftar panjang tantangan yang harus dijawab pemerintah terkait kelayakan IKN sebagai ibu kota baru, khususnya dalam hal aksesibilitas dan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau