Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hampir Rampung, Begini Penampakan Sorban Unik Masjid Negara IKN

Kompas.com, 21 Agustus 2025, 10:52 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Pembangunan Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN) terus menunjukkan progres signifikan.

Proyek yang ikonik dengan desain "sorban" melayang di atas kubah ini dilaporkan sudah mencapai lebih dari 60 persen dan ditargetkan rampung pada Desember 2025.

Baca juga: Melenceng dari Target Awal, Masjid Negara IKN Siap Digunakan Salat Idul Fitri 2026

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengakui pembangunan sempat mengalami kendala cuaca.

"Hujan yang terus-menerus menyebabkan target awal untuk beroperasi saat Idul Fitri 2025 harus direvisi menjadi 2026," ujar Basuki menjawab Kompas.com.

Strategi Kejar Target di Tengah Tantangan

Minaret Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN)HK Minaret Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Untuk mengejar target yang ada, kontraktor utama proyek ini, KSO PT Hutama Karya (Persreo)-PT Adhi Karya (Persero) Tbk, menerapkan sejumlah strategi.

EVP Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero) Adjib Al Hakim memastikan berbagai upaya percepatan akan terus dilakukan.

Baca juga: Dari Revisi Desain hingga Batal Jadi Venue Salat Idul Fitri, Ini Progres Masjid Negara IKN

Mulai dari peningkatan jam kerja dan sumber daya dengan menambah jam kerja dan personel di lapangan untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan lebih cepat.

Kemudian, optimalisasi teknologi konstruksi dnegan menggunakan metode modern seperti modularisasi atau prefabrikasi untuk mempercepat pembangunan di beberapa area.

Selanjutnya, mempercepat pengadaan dan distribusi material agar tidak ada keterlambatan pasokan.

Baca juga: Selain Bangun Mal-Mixed Use, Investor Arab Juga Akan Wakaf Masjid di IKN

"Selain tantangan cuaca, kendala lain yang dihadapi adalah tantangan geografis, terutama terkait keterbatasan jalan akses menuju lokasi proyek di IKN," ungkap Adjib kepada Kompas.com, Kamis (21/8/2025).

Telah Serap APBN Rp 785 Miliar

Tempat wudhu Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN)HK Tempat wudhu Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Adjib menambahkan, pembangunan fisik Masjid Negara IKN telah menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 785 miliar sejak tahun 2023 hingga Agustus 2025.

Baca juga: Shalat Idul Fitri 2025 Batal Digelar di Masjid Negara IKN, Ini Alasannya

Jumlah ini menunjukkan besarnya komitmen pemerintah dalam merealisasikan salah satu proyek vital di ibu kota baru.

Masjid Negara IKN dirancang untuk memiliki kapasitas hingga 61.000 jemaah di dalam dan luar ruangan.

Kehadiran masjid ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga simbol arsitektur Islam yang modern dan ikonik di IKN.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau