Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Batik, sebagai warisan budaya bangsa, memiliki identitas kuat di setiap daerah.
Namun, batik Kalimantan, khususnya dari Balikpapan, IKN, dan Penajam Paser Utara, menghadapi tantangan unik.
Meskipun kualitasnya tak diragukan, motifnya yang masih terpaku pada pakem tradisional seperti burung enggang atau cumi-cumi membuatnya sulit bersaing dengan popularitas batik Jawa.
Baca juga: Aspakusa Makmur Boyolali Diincar Investor, Penuhi Kebutuhan Pangan IKN
Untuk mengubah situasi ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan mengambil langkah strategis.
Mereka tidak hanya akan mendorong, tetapi secara langsung memfasilitasi perjalanan para perajin batik lokal ke sentra batik modern di Solo, Jawa Tengah.
Tujuannya jelas: mendobrak stigma, menggenjot kreativitas, dan mengorbitkan batik Kalimantan ke panggung nasional.
Menurut Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, selama ini batik Kalimantan sering kali disalahpahami.
"Ketika orang pegang batiknya, pertanyaan pertama adalah 'Ini batik Solo atau Jogja?' Padahal itu produk kita," ungkapnya menjawab Kompas.com.
Baca juga: PPU Kawal Pembenahan Pesisir IKN, Pelabuhan Penyeberangan Jadi Prioritas Utama
Ini menjadi masalah utama, di mana produk lokal kehilangan identitasnya di pasar.
Untuk itu, BI Balikpapan akan memberangkatkan 12 perajin dan pengusaha batik UMKM ke Solo, akhir tahun ini.
Di sana, mereka akan mendapatkan pelatihan komprehensif yang fokus pada tiga aspek, yakni:
Robi menekankan pentingnya "storytelling" di balik setiap lembar kain batik.
Sama seperti batik Solo yang kini dikemas dengan narasi detail, batik Balikpapan juga harus memiliki cerita kuat yang membuat pembeli merasa memiliki koneksi emosional dengan produk.
Baca juga: Merajut Nusantara Lewat Wastra, Upaya BI Mengawinkan 2 Pakem Berbeda
Hal ini akan diperkuat dengan pengemasan premium yang juga mencantumkan cara perawatan.
Selain itu, digitalisasi melalui platform seperti TikTok dianggap kunci untuk menjangkau pasar anak muda yang lebih luas.