Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelangkaan Air Mengancam IKN, Ini yang Harus Dilakukan Otorita

Kompas.com, 2 Oktober 2025, 22:11 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

"Ini adalah pendekatan berkelanjutan untuk mengelola air hujan secara alami, menyerapnya ke dalam tanah dan memanfaatkannya kembali," ujar Laras.

Usulan kota spons ini mencakup pilar-pilar konkret yang menuntut aksi cepat dari pemerintah, berupa infrastruktur konservati air, dengan membangun bendungan, sistem perpipaan baru, dan embung untuk menampung dan mengelola air hujan secara masif.

Kemudian konservasi lahan aktif melalui pembangunan hutan kota dan reboisasi intensif sebagai kompensasi atas alih lahan industri.

Baca juga: Infrastruktur Air Minum IKN Terbaik di Indonesia, Bisa Direplikasi Kota Lain

Ini adalah penekanan bahwa konsep forest city IKN harus diwujudkan melalui aksi penanaman yang agresif dan terencana, bukan sekadar nama.

Selain itu juga amsyarakat harus diedukasi melalui sosialisasi yang terprogram akan pentingnya menghemat dan tidak mencemari air.

Kendati demikian, ada sejumlah tantangan dalam implementasi konsep kota spons ini.

Bahwa kota spons menuntut transisi dari janji desain yang indah di atas kertas menjadi eksekusi di lapangan yang memerlukan investasi besar dan komitmen multi-sektor.

Baca juga: Bom Waktu Air Bersih di Sekitar IKN, Pemerintah Beri Perhatian Khusus

Kecepatan pembangunan infrastruktur air harus seimbang, bahkan mendahului, kecepatan pembangunan kantor dan hunian.

Pengelolaan Sumber Daya Manusia

Aspek yang tak kalah penting dalam temuan ini adalah pemanfaatan Jaringan Saraf Tiruan (JST) atau ANN.

Penggunaan model machine learning yang meniru jaringan saraf biologis ini menandakan bahwa perencanaan IKN tidak hanya didasarkan pada data konvensional, tetapi memanfaatkan teknologi prediktif terkini.

Keunggulan JST dalam mengolah dan memprediksi ketersediaan air, yang tidak mengharuskan data berdistribusi normal, memberikan tingkat akurasi dan kompleksitas analisis yang lebih tinggi.

Baca juga: Kebutuhan Air Rusun BIN, Polri dan ASN IKN Akan Dilayani Perumda Danum Taka

Ini adalah sinyal bahwa pemerintah harus mengintegrasikan sistem pemantauan berbasis AI dan Big Data ini ke dalam Otorita IKN secara permanen untuk mengukur dan mengelola sumber daya alam secara real-time.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau