Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 9 Oktober 2025, 21:40 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Kota Balikpapan, menghadapi tantangan geografis yang unik dan besar dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan, yakni karakteristik tanah yang tidak subur.

Di tengah ambisi besar Indonesia menjadikan Kaltim sebagai pusat peradaban baru dengan membangun Ibu Kota Nusantara (IKN), fondasi pertaniannya ternyata rapuh.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, menjelaskan akar masalahnya adalah tanah di Balikpapan didominasi jenis podzolik.

Baca juga: Polda Kaltim Cetak Rekor 2 Kali Lipat Produksi Jagung, Masuk 3 Besar Nasional

"Tanah podzolik memiliki sedikit unsur hara dan tidak subur. Warna tanahnya cenderung merah kekuningan dan bertekstur lempung," terang Sri, Kamis (9/10/2025).

Jenis tanah ini terbentuk akibat suhu rendah dan curah hujan tinggi, dan umumnya memerlukan biaya ekstra untuk boosting kesuburan.

Kondisi ini secara fundamental berbeda dengan tanah vulkanis subur di Jawa atau Sulawesi, sentra pangan nasional.

Mencari Bibit Super dan Lahan Bekas Tambang

Tantangan kondisi tanah yang belum sepenuhnya cocok ini tidak menyurutkan semangat stakeholder untuk memperluas lahan produktif, terutama untuk tanaman pangan strategis seperti jagung.

Baca juga: Otorita IKN Gelar Cek Kesehatan Gratis, Ikuti Program Prabowo

Strategi yang kini diusung menuntut riset radikal dan kolaborasi tak terduga. Para ahli dan peneliti pertanian didorong untuk melakukan riset dan uji coba guna menemukan bibit jagung yang lebih adaptif terhadap kondisi tanah podzolik Kaltim.

Tujuannya adalah mencari bibit super yang mampu tumbuh optimal meskipun di tanah yang miskin hara.

Terobosan paling inovatif adalah memanfaatkan lahan yang sebelumnya dianggap mati yakni lahan bekas tambang dan perkebunan kelapa sawit.

Melalui kerja sama dengan perusahaan sawit dan pelaku usaha tambang, lahan eksploitasi ini akan diubah menjadi lahan tanam jagung.

Baca juga: Kebakaran HPK IKN, Polisi Kirim Sisa Arang dan Kabel ke Labfor Jatim

Pola tanam terpusat di satu kawasan luas ini diharapkan meningkatkan efisiensi pengelolaan, perawatan, dan hasil panen secara optimal.

Upaya ini adalah pertarungan melawan keterbatasan alam Kaltim demi mencapai kemandirian pangan.

"Dengan inovasi dan sinergi, ambisi untuk mengubah tanah merah yang kurang subur menjadi lumbung jagung baru di Indonesia menjadi pekerjaan rumah yang menantang," tuntas Sri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau