Penulis
Jika batu Megalitikum menjadi pondasi fisik, maka Pohon Kehidupan (Pohon Hayat) menjadi infrastruktur pengikatnya.
Terinspirasi dari kearifan lokal Kalimantan seperti Pohon Kaharingan, konsep ini mengintegrasikan bangunan dengan alam secara organik.
Baca juga: Cerlang Nusantara Karya Yori Antar Juara Sayembara Desain Pusat Kebudayaan IKN
Juri Wiendu Nuryanti menekankan bahwa penggalian nilai-nilai sejarah ini terefleksi dengan sangat baik dalam wujud fisik bangunan.
"Budaya Nusantara diolah dengan sangat baik. Penggalian nilai sejarah segala macam itu terefleksi dalam wujudnya. Kesatuan secara keseluruhan sangat terasa," tegas Wiendu.
Kesan ini diperkuat dengan skema warna yang jujur: Hitam/Coklat (mewakili batu peradaban), dan Hijau (narasi hutan).
Tujuannya adalah mengembalikan DNA manusia IKN sebagai manusia sosial yang gotong royong di tengah lingkungan asri.
4. Memuliakan Alam, Bukan Sekadar Bertahan
Keistimewaan lain yang membuat para juri kagum adalah sikap arsitek terhadap ekosistem yang sudah ada (existing condition).
Pada saat banyak proyek konstruksi cenderung meratakan lahan, Cerlang Nusantara justru memilih untuk "memuliakan" alam.
Baca juga: Komisi VI DPR: Pembangunan IKN Tahap II Harus Diawasi secara Ketat
Salah satu contoh nyata adalah pertahanan terhadap pohon ulin existing di lokasi. Alih-alih ditebang, pohon tersebut justru dijadikan pusat orientasi atau elemen yang dihormati dalam lanskap.
"Ada penghargaan yang menonjol terhadap kondisi eksisting. Sampai misalnya ada pohon ulin yang sudah ada di sana, itu justru dimuliakan, bukan hanya dipertahankan," tambah Wicaksono.
5. Sinkronisasi dengan Poros Hijau IKN
Secara tata ruang, Pusat Kebudayaan Nusantara ini menempati posisi strategis di Poros Hijau IKN, berdekatan dengan Plaza Seremoni dan Plaza Bhinneka.
Di tengah bangunan institusi yang cenderung simetris, Cerlang Nusantara hadir dengan bentuk prismatik yang dinamis, memberikan keseimbangan visual yang unik bagi kawasan inti pemerintahan.
Meskipun Cerlang Nusantara menjadi juara pertama, dewan juri memberikan catatan bahwa ke depannya akan ada kolaborasi antarpemenang.
Baca juga: Ternyata, Investor Asing yang Resmi Masuk IKN Baru Satu, Siapa Dia?
Hal ini selaras dengan arahan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, untuk menggabungkan keunggulan dari masing-masing peserta guna mencapai hasil yang paling sempurna bagi Indonesia.
Dengan filosofi "Ambil Catalino, Baturamin Casaruga, Basurga", yang bermakna adil terhadap sesama manusia dan adil terhadap alam, Pusat Kebudayaan IKN diharapkan menjadi ruang di mana identitas nasional kita tidak hanya disimpan dalam museum, tapi dihidupi setiap hari.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.