Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keistimewaan Cerlang Nusantara IKN yang Bikin Dewan Juri Jatuh Cinta

Kompas.com, 31 Januari 2026, 14:30 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Berada di titik nol peradaban baru, desain bertajuk Cerlang Nusantara resmi ditetapkan sebagai pemenang pertama Sayembara Pusat Kebudayaan Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Mengungguli 34 karya arsitektur terbaik Tanah Air, desain ini dinilai bukan sekadar rancangan bangunan, melainkan sebuah narasi besar tentang cara manusia Indonesia menghargai akar sejarah sembari melompat ke masa depan.

Baca juga: Menteri Agama Dijadwalkan Salat Tarawih Perdana di Masjid Negara IKN

Sayembara Pusat Kebudayaan Nusantara diselenggarakan secara kolaboratif oleh Otorita IKN bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), dengan total hadiah Rp 1,15 Miliar.

Berikut adalah ulasan komprehensif mengenai keistimewaan yang membawa Cerlang Nusantara karya Tim Gregorius (Yori) Antar Awal, meraih predikat juara pertama.

1. Menghapus Sekat: Konsep Ruang Luar-Dalam yang Cair

Salah satu pertimbangan utama dewan juri adalah keberhasilan desain ini dalam menciptakan ruang yang inklusif dan tidak kaku.

Wicaksono Sarosa, salah satu anggota dewan juri, menyoroti betapa kuatnya koneksi antar-ruang dalam rancangan ini. 

"Keunggulannya adalah hampir tidak ada deliniasi atau pemisahan antara ruang luar dan dalam. Ini sangat cocok untuk IKN. Orang bisa menikmati berjalan, keluar-masuk seluruh kawasan ini secara mengalir," ujar Wicaksono.

Baca juga: Istana Wakil Presiden di IKN Dilengkapi Kolam Renang 50 Meter

Konsep ini merespons kebutuhan manusia pasca-pandemi yang cenderung menjadi "manusia outdoor", pribadi yang lebih cair berinteraksi dan tidak terkurung dalam dinding institusional yang simetris dan kaku.

2. Megalitikum Menuju Masa Depan: Akar Peradaban Tertua

Desain Cerlang Nusantara mengambil inspirasi dari peradaban tertua di Indonesia, yakni masa Megalitikum.

Bentuk-bentuk bangunan utama diwujudkan secara prismatik menyerupai pahatan batu purba yang ditemukan mulai dari Nias, Sumba, hingga Sulawesi.

Penggunaan elemen batu ini bukan tanpa alasan. Batu adalah simbol kehadiran peradaban awal manusia Indonesia. Namun, desain ini tidak berhenti di masa lalu.

Baca juga: IKN Bakal Punya Concert Hall Kelas Dunia, Mulai Dibangun 2027

"Tradisi dan budaya itu jangan dibekukan pada masa lalu. Bagaimana tradisi itu dibawa ke masa kini dan membimbing kita ke masa depan. Itu spirit dari Cerlang Nusantara," jelas Yori mengungkap narasi di balik konsep tersebut.

Desain Cerlang Nusantara, pemenang Sayembara Desain Pusat Kebudayaan Nusantara (PKN) di Ibu Kota Nusantara (IKN)Tim Yori Antar Awal Desain Cerlang Nusantara, pemenang Sayembara Desain Pusat Kebudayaan Nusantara (PKN) di Ibu Kota Nusantara (IKN)
3. "Pohon Kehidupan" sebagai Infrastruktur Kebijakan

Jika batu Megalitikum menjadi pondasi fisik, maka Pohon Kehidupan (Pohon Hayat) menjadi infrastruktur pengikatnya.

Terinspirasi dari kearifan lokal Kalimantan seperti Pohon Kaharingan, konsep ini mengintegrasikan bangunan dengan alam secara organik.

Baca juga: Cerlang Nusantara Karya Yori Antar Juara Sayembara Desain Pusat Kebudayaan IKN

Juri Wiendu Nuryanti menekankan bahwa penggalian nilai-nilai sejarah ini terefleksi dengan sangat baik dalam wujud fisik bangunan.

"Budaya Nusantara diolah dengan sangat baik. Penggalian nilai sejarah segala macam itu terefleksi dalam wujudnya. Kesatuan secara keseluruhan sangat terasa," tegas Wiendu.

Kesan ini diperkuat dengan skema warna yang jujur: Hitam/Coklat (mewakili batu peradaban), dan Hijau (narasi hutan).

Tujuannya adalah mengembalikan DNA manusia IKN sebagai manusia sosial yang gotong royong di tengah lingkungan asri.

4. Memuliakan Alam, Bukan Sekadar Bertahan

Keistimewaan lain yang membuat para juri kagum adalah sikap arsitek terhadap ekosistem yang sudah ada (existing condition).

Pada saat banyak proyek konstruksi cenderung meratakan lahan, Cerlang Nusantara justru memilih untuk "memuliakan" alam.

Baca juga: Komisi VI DPR: Pembangunan IKN Tahap II Harus Diawasi secara Ketat

Salah satu contoh nyata adalah pertahanan terhadap pohon ulin existing di lokasi. Alih-alih ditebang, pohon tersebut justru dijadikan pusat orientasi atau elemen yang dihormati dalam lanskap. 

"Ada penghargaan yang menonjol terhadap kondisi eksisting. Sampai misalnya ada pohon ulin yang sudah ada di sana, itu justru dimuliakan, bukan hanya dipertahankan," tambah Wicaksono.

Cerlang Nusantara karya Tim Gregorius Antar Awal memenangi Sayembara Desain Pusat Kebudayaan Nusantara (PKN) di Ibn Kota Nusantara (IKN)Tim Yori Antar Awal Cerlang Nusantara karya Tim Gregorius Antar Awal memenangi Sayembara Desain Pusat Kebudayaan Nusantara (PKN) di Ibn Kota Nusantara (IKN)
5. Sinkronisasi dengan Poros Hijau IKN

Secara tata ruang, Pusat Kebudayaan Nusantara ini menempati posisi strategis di Poros Hijau IKN, berdekatan dengan Plaza Seremoni dan Plaza Bhinneka.

Di tengah bangunan institusi yang cenderung simetris, Cerlang Nusantara hadir dengan bentuk prismatik yang dinamis, memberikan keseimbangan visual yang unik bagi kawasan inti pemerintahan.

Kolaborasi

Meskipun Cerlang Nusantara menjadi juara pertama, dewan juri memberikan catatan bahwa ke depannya akan ada kolaborasi antarpemenang.

Baca juga: Ternyata, Investor Asing yang Resmi Masuk IKN Baru Satu, Siapa Dia?

Hal ini selaras dengan arahan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, untuk menggabungkan keunggulan dari masing-masing peserta guna mencapai hasil yang paling sempurna bagi Indonesia.

Dengan filosofi "Ambil Catalino, Baturamin Casaruga, Basurga", yang bermakna adil terhadap sesama manusia dan adil terhadap alam, Pusat Kebudayaan IKN diharapkan menjadi ruang di mana identitas nasional kita tidak hanya disimpan dalam museum, tapi dihidupi setiap hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau