Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Semburat warna pastel menyapa pandangan saat memasuki ruang penuh wastra, gerai KurniaWP Batik, di sudut kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Di sana, jemari Dyah Setyowati Bagyoastuti tidak sekadar menari di atas mori, ia sedang merajut kisah keberanian.
Bagi Dyah, setiap coretan canting adalah manifestasi dari kegigihan menempuh pengobatan panjang sebagai penyintas kanker payudara selama lebih dari satu dekade.
Baca juga: Jamin Kelancaran Lebaran, BI Kaltim Siapkan Rp 2,18 Triliun Uang Tunai
KurniaWP Batik lahir dari rahim pengharapan, sebuah karsa yang mengubah rasa sakit menjadi keindahan visual yang memikat.
“KurniaWP Batik hadir sebagai sarana healing dalam proses pengobatan yang panjang. Setiap helai kain yang terlahir adalah wujud kekuatan dan kegigihan. Coretan garisnya adalah simbol pengharapan karena kasih karunia-Nya,” ungkap Dyah dengan nada yang tenang namun berwibawa kepada Kompas.com, Selasa (29/4/2026).
Dyah tidak membiarkan pakem tradisional mati dalam kekakuan. Ia melakukan penelusuran mendalam terhadap motif busana adat, manik-manik, hingga ukiran kayu khas Kalimantan untuk menemukan intisari filosofinya.
Dengan teknik stilasi, Dyah memberikan sentuhan kontemporer pada motif asli tanpa mencerabut akarnya.
Hasil alam Tanah Borneo diceritakan ulang melalui tata letak yang lebih dinamis dan ukuran motif yang disesuaikan agar lebih relevan dengan selera pasar modern.
Baca juga: Strategi BI Balikpapan Dorong UMKM Penyangga IKN Naik Kelas
Konsistensi ini juga terlihat pada keberaniannya bermain di ranah warna. Dyah memadukan teknik batik Jawa dengan ruh Borneo, menghasilkan palet warna pastel dan alam yang mampu menembus selera global.
Baginya, batik bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang harus diproteksi melalui legalitas hak cipta agar orisinalitas karya tetap terjaga dari praktik plagiarisme yang kerap menghantui industri kreatif.
Kendati demikian, Dyah tidak pelit berbagi. Sebaliknya, perempuan berkacamata ini tak lelah berupaya memberdayakan perempuan dan mengedukasi masyarakat.
Dyah dengan sabar menanamkan pemahaman bahwa jati diri batik terletak pada prosesnya, bukan sekadar motifnya.
Ia aktif memberikan pelatihan mulai dari tingkat kanak-kanak hingga sekolah menengah, menularkan filosofi bahwa ketekunan dalam membatik adalah cermin dari keteguhan hidup.
Sisi kemanusiaan Dyah juga bersimbiosis dengan kesadaran ekologis. Ia menerapkan teknik colet untuk meminimalkan residu pewarna sintetis dan mengolah limbah cucian melalui sistem pengendapan bertahap hingga aman bagi saluran air.
Baca juga: Menjaga Jangkar Ekonomi, Strategi BI Balikpapan Hadapi Volatilitas 2026
"Saat ini kami bekerja sama dengan komunitas pengrajin batik yang telah melakukan proses pengolahan limbah pewarna sintetis dengan pengendapan hasil cucian secara bertahap sehingga ketika dibuang ke saluran air, bahan tersebut sudah aman," ungkap Dyah.