Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Goresan Malam Sang Penyintas Kanker, Menduniakan Batik Kalimantan

Kompas.com, 30 April 2026, 16:05 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Semburat warna pastel menyapa pandangan saat memasuki ruang penuh wastra, gerai KurniaWP Batik, di sudut kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Di sana, jemari Dyah Setyowati Bagyoastuti tidak sekadar menari di atas mori, ia sedang merajut kisah keberanian.

Bagi Dyah, setiap coretan canting adalah manifestasi dari kegigihan menempuh pengobatan panjang sebagai penyintas kanker payudara selama lebih dari satu dekade.

Baca juga: Jamin Kelancaran Lebaran, BI Kaltim Siapkan Rp 2,18 Triliun Uang Tunai

KurniaWP Batik lahir dari rahim pengharapan, sebuah karsa yang mengubah rasa sakit menjadi keindahan visual yang memikat.

“KurniaWP Batik hadir sebagai sarana healing dalam proses pengobatan yang panjang. Setiap helai kain yang terlahir adalah wujud kekuatan dan kegigihan. Coretan garisnya adalah simbol pengharapan karena kasih karunia-Nya,” ungkap Dyah dengan nada yang tenang namun berwibawa kepada Kompas.com, Selasa (29/4/2026).

Stilasi Budaya dan Kontemporeritas Borneo

Dyah tidak membiarkan pakem tradisional mati dalam kekakuan. Ia melakukan penelusuran mendalam terhadap motif busana adat, manik-manik, hingga ukiran kayu khas Kalimantan untuk menemukan intisari filosofinya.

Dengan teknik stilasi, Dyah memberikan sentuhan kontemporer pada motif asli tanpa mencerabut akarnya.

Hasil alam Tanah Borneo diceritakan ulang melalui tata letak yang lebih dinamis dan ukuran motif yang disesuaikan agar lebih relevan dengan selera pasar modern.

Baca juga: Strategi BI Balikpapan Dorong UMKM Penyangga IKN Naik Kelas

Konsistensi ini juga terlihat pada keberaniannya bermain di ranah warna. Dyah memadukan teknik batik Jawa dengan ruh Borneo, menghasilkan palet warna pastel dan alam yang mampu menembus selera global.

Baginya, batik bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang harus diproteksi melalui legalitas hak cipta agar orisinalitas karya tetap terjaga dari praktik plagiarisme yang kerap menghantui industri kreatif.

Kendati demikian, Dyah tidak pelit berbagi. Sebaliknya, perempuan berkacamata ini tak lelah berupaya memberdayakan perempuan dan mengedukasi masyarakat.

Dyah dengan sabar menanamkan pemahaman bahwa jati diri batik terletak pada prosesnya, bukan sekadar motifnya.

Ia aktif memberikan pelatihan mulai dari tingkat kanak-kanak hingga sekolah menengah, menularkan filosofi bahwa ketekunan dalam membatik adalah cermin dari keteguhan hidup.

Sisi kemanusiaan Dyah juga bersimbiosis dengan kesadaran ekologis. Ia menerapkan teknik colet untuk meminimalkan residu pewarna sintetis dan mengolah limbah cucian melalui sistem pengendapan bertahap hingga aman bagi saluran air.

Baca juga: Menjaga Jangkar Ekonomi, Strategi BI Balikpapan Hadapi Volatilitas 2026

"Saat ini kami bekerja sama dengan komunitas pengrajin batik yang telah melakukan proses pengolahan limbah pewarna sintetis dengan pengendapan hasil cucian secara bertahap sehingga ketika dibuang ke saluran air, bahan tersebut sudah aman," ungkap Dyah.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau