Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Goresan Malam Sang Penyintas Kanker, Menduniakan Batik Kalimantan

Kompas.com, 30 April 2026, 16:05 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Dyah memastikan, langkah-langkah berkelanjutan ini tidak mengubah hasil, dan tetap sesuai selera pasar.

Produksi kain juga disesuaikan dengan jumlah pemakaian pewarna sehingga sangat minimal membuang sisa pewarna.

"Untuk beberapa pewarna, biasanya kami akan menyimpannya jika masih ada sisa sehingga bisa dimanfaatkan kembali pada keesokan harinya," ucap Dyah.

Variasi Produk

Saat ini, KurniaWP Batik mulai memvariasikan produk batik dengan pewarna alam, namun masih terbatas pada batik tulis.

Hal ini karena keterbatasan bahan pewarna dan tidak stabilnya kandungan tanin pada tanaman tersebut sehingga warna yang dihasilkan pun tidak sama.

KurniaWP Batik juga masih menggodok untuk penggunaan pada batik cap dalam rangka menekan harga jual dan peduli lingkungan.

"Hal ini sudah kami lakukan sejak pertama KurniaWP Batik berdiri yaitu memberikan sentuhan warna alam ataupun pastel sehingga lebih bisa diterima pasar global dalam setiap seri yang dibuat," cetus Dyah.

Sebagian produknya kini mulai beralih menggunakan pewarna alam pada batik tulis, meski tantangan stabilitas kandungan tanin tanaman lokal masih menjadi pergulatan teknis yang terus ia dalami.

Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS Tap

Adapun tantangan di daerah Kalimantan sangat tinggi ketika warna yang dihasilkan kurang terang, sehingga Dyah harus berjuang untuk mencari pasar di luar Kalimantan.

Dia juga bertarung dengan batik di Jawa yang cenderung lebih murah karena sumber daya manusia (SDM) yang melimpah dengan upah lebih murah dengan skill yang jauh di atas rata rata di Kalimantan.

Untuk itu, Dyah rajin memperhatikan jenis motif yang berkembang dari tahun ke tahun melalui trend for casting untuk dunia fashion baik dari segi motif, warna maupin bahan dasar yang dipakai.

Saat ini, KurniaWP Batik sudah mulai memvariasikan penggunaan bahan kain yang tidak hanya prima atau primisima tapi tetap bahan alam seperti rayon santung, katun paris ataupun sutra dan paduan serat alam lainnya.

Menuju Jenama Gaya Hidup yang Membumi

Menatap lima tahun ke depan, Dyah memosisikan KurniaWP Batik sebagai jenama gaya hidup yang menyeluruh.

Prinsip zero waste diterapkan melalui produksi busana siap pakai atau Ready To Wear (RTW) yang tidak meninggalkan beban bagi bumi.

Sisa-sisa kain perca atau batik yang rusak disulap menjadi aksesori estetik seperti bros, kalung, dan tas oleh tangan-tangan terampil ibu rumah tangga dan rekan kriya di sekitarnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau