Penulis
Dyah memastikan, langkah-langkah berkelanjutan ini tidak mengubah hasil, dan tetap sesuai selera pasar.
Produksi kain juga disesuaikan dengan jumlah pemakaian pewarna sehingga sangat minimal membuang sisa pewarna.
"Untuk beberapa pewarna, biasanya kami akan menyimpannya jika masih ada sisa sehingga bisa dimanfaatkan kembali pada keesokan harinya," ucap Dyah.
Saat ini, KurniaWP Batik mulai memvariasikan produk batik dengan pewarna alam, namun masih terbatas pada batik tulis.
Hal ini karena keterbatasan bahan pewarna dan tidak stabilnya kandungan tanin pada tanaman tersebut sehingga warna yang dihasilkan pun tidak sama.
KurniaWP Batik juga masih menggodok untuk penggunaan pada batik cap dalam rangka menekan harga jual dan peduli lingkungan.
"Hal ini sudah kami lakukan sejak pertama KurniaWP Batik berdiri yaitu memberikan sentuhan warna alam ataupun pastel sehingga lebih bisa diterima pasar global dalam setiap seri yang dibuat," cetus Dyah.
Sebagian produknya kini mulai beralih menggunakan pewarna alam pada batik tulis, meski tantangan stabilitas kandungan tanin tanaman lokal masih menjadi pergulatan teknis yang terus ia dalami.
Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS Tap
Adapun tantangan di daerah Kalimantan sangat tinggi ketika warna yang dihasilkan kurang terang, sehingga Dyah harus berjuang untuk mencari pasar di luar Kalimantan.
Dia juga bertarung dengan batik di Jawa yang cenderung lebih murah karena sumber daya manusia (SDM) yang melimpah dengan upah lebih murah dengan skill yang jauh di atas rata rata di Kalimantan.
Untuk itu, Dyah rajin memperhatikan jenis motif yang berkembang dari tahun ke tahun melalui trend for casting untuk dunia fashion baik dari segi motif, warna maupin bahan dasar yang dipakai.
Saat ini, KurniaWP Batik sudah mulai memvariasikan penggunaan bahan kain yang tidak hanya prima atau primisima tapi tetap bahan alam seperti rayon santung, katun paris ataupun sutra dan paduan serat alam lainnya.
Menatap lima tahun ke depan, Dyah memosisikan KurniaWP Batik sebagai jenama gaya hidup yang menyeluruh.
Prinsip zero waste diterapkan melalui produksi busana siap pakai atau Ready To Wear (RTW) yang tidak meninggalkan beban bagi bumi.
Sisa-sisa kain perca atau batik yang rusak disulap menjadi aksesori estetik seperti bros, kalung, dan tas oleh tangan-tangan terampil ibu rumah tangga dan rekan kriya di sekitarnya.