Penulis
Menghadapi tekanan ini, masing-masing daerah telah mengandalkan instrumen Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi pasar sebagai penahan benturan pertama secara jangka pendek sejak awal tahun.
Berikut frekuensi GPM (Februari-April 2026) Penyangga IKN:
Baca juga: BI Balikpapan Siapkan Uang Tunai Rp 2 Triliun untuk Lebaran, Melesat 11 Persen
Meskipun stok pangan strategis diklaim aman untuk kebutuhan Idul Adha, efektivitas GPM yang bersifat temporer ini akan diuji oleh durasi kemarau panjang. Opsi intervensi jangka pendek harus segera bergeser ke langkah struktural.
Guna memitigasi risiko jangka panjang, TPID Gabungan menyepakati percepatan pemanfaatan Belanja Tak Terduga (BTT) untuk menyubsidi ongkos angkut logistik.
Langkah ini krusial untuk memotong beban biaya pelayaran yang meninggi akibat faktor cuaca buruk.
Strategi lain yang mendesak adalah memperluas Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah produsen di luar Kalimantan.
Baca juga: Inflasi Kaltim Melandai, tapi Transportasi dan Energi Masih Menghantui
Namun, ketergantungan ini harus dikurangi secara bertahap melalui percepatan masa tanam hortikultura lokal menggunakan teknologi pertanian adaptif iklim kering.
Langkah konkret terkini melibatkan sektor akademis, di mana produsen pangan lokal akan dihubungkan langsung dengan SPPG melalui lokakarya standarisasi menu berbasis bahan pangan lokal bersama Politeknik Negeri Balikpapan.
"Skema ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus mengamankan pasokan tanpa mengorbankan kebutuhan konsumsi rumah tangga umum," pungkas Robi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.