Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com — Cetak biru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) resmi memperluas jangkauan operasionalnya ke tingkat metropolitan makro.
Pemerintah melalui Otorita IKN kini mulai mengalihkan fokus strategi, dari yang semula bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik sektoral di dalam Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), beralih ke arah penyelarasan ekonomi wilayah penyangga.
Siasat integrasi ini diwujudkan melalui penguatan konsep ekonomi Tiga Kota (Tri-City) yang melekat dalam payung besar "Greater Nusantara".
Baca juga: Greater Nusantara, Strategi Mencegah IKN Jadi Kota Hantu
Perluasan interaksi ruang ini merupakan respons preventif untuk memotong risiko kegagalan struktural kota baru.
Hal ini mengingat sejarah tata kota dunia yang mencatat banyak proyek pemindahan ibu kota berujung menjadi kota sepi (ghost town) akibat keterisolasian geografis dan lambatnya pembentukan densitas populasi organik.
Perumusan konsep Tri-City dalam "Greater Nusantara" didasari oleh evaluasi empiris terhadap keterbatasan daya dukung internal IKN pada fase awal pertumbuhan.
Data perencanaan menunjukkan bahwa kawasan ibu kota baru tidak dapat berdiri sebagai entitas tunggal yang mandiri.
Aktivitas sirkulasi di KIPP memiliki ketergantungan masif terhadap rantai pasok material bangunan hulu, distribusi bahan pangan harian, hingga akomodasi hunian bagi para pekerja.
Jika interaksi ekonomi dengan daerah sekitar tidak dihidupkan sejak dini, kawasan ini dikhawatirkan akan mengalami penurunan aktivitas (stagnasi) begitu stimulus anggaran konstruksi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai dikurangi.
Baca juga: 330 Kg Sampah Ditemukan di IKN, Basuki: Kabar Baik
Risiko keterisolasian ruang inilah yang melatarbelakangi Otorita IKN untuk mengikat kota-kota utama di Kalimantan Timur ke dalam satu ekosistem terpadu.
Direktur Perencanaan Makro Otorita IKN, Pungky Widiaryanto, mengonfirmasi bahwa pertumbuhan organik Nusantara hanya bisa dicapai melalui kerja sama lintas batas administrasi.
"Kita membutuhkan kota-kota sekitar untuk menjadi Greater Nusantara. Orang-orang di sebuah kota saling membutuhkan satu sama lain. Maka dari itu kita menyebutnya sebagai pembangunan Greater Nusantara," papar Pungky, dikutip Kompas.com, Senin (8/6/2026).
Tujuan utama dari implementasi konsep Tiga Kota di dalam "Greater Nusantara" adalah menciptakan pembagian peran kerja regional (regional division of labor) yang saling mengunci.
Melalui mekanisme ini, pemerintah memproyeksikan terjadinya dampak rambatan ekonomi (spillover effect) yang merata, sekaligus mengamankan ketahanan logistik ibu kota tanpa harus membebani anggaran pusat secara terus-menerus.
Indikator awal dari berjalannya dampak rambatan ini tercatat pada performa ekonomi daerah mitra terdekat.
Baca juga: Beruang Madu, Lutung Merah, dan Rusa Sambar Kembali Kuasai Hutan IKN