Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Operasional dan Pemeliharaan Gedung di IKN Tembus Rp 3,2 Triliun

Kompas.com, 22 Juni 2026, 23:52 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com — Beban keuangan negara untuk merawat infrastruktur fisik di Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai membengkak seiring selesainya sejumlah proyek konstruksi utama.

Pada pagu indikatif tahun anggaran 2027, Otorita IKN mencatat kebutuhan dana operasional dan perawatan berkala gedung-gedung pemerintahan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) menembus angka Rp 3,2 triliun.

Anggaran ini menjadi mutlak guna menahan laju kerusakan akibat depresiasi fisik bangunan yang mulai beroperasi.

Baca juga: Minta Tambahan Anggaran Rp 15,5 Triliun, Ini Rincian Belanja Otorita IKN

Tingginya biaya pemeliharaan tersebut memicu lonjakan total kebutuhan dana Otorita IKN menjadi Rp 22,2 triliun untuk tahun anggaran 2027.

Sementara itu, alokasi anggaran reguler yang disetujui pemerintah hanya sebesar Rp 6,7 triliun, kendati nominal ini sudah naik Rp 1,2 triliun dibandingkan pagu tahun fiskal sebelumnya yang berada di posisi Rp 5,5 triliun.

Celah fiskal sebesar Rp 15,5 triliun inilah yang kini diajukan sebagai usulan tambahan anggaran kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Distribusi Pagu Reguler

Pagu reguler senilai Rp 6,7 triliun yang tersedia saat ini telah terserap penuh untuk membiayai dua program primer kelembagaan.

Program Dukungan Manajemen Otorita IKN mengonsumsi dana sebesar Rp 922,6 miIiar, sedangkan Program Pengembangan Kawasan Nusantara menyerap bagian terbesar senilai Rp 5,77 triliun.

Baca juga: Otorita Gandeng PHDI, Kawal Pembangunan Pura Nusantara IKN

Ketiadaan ruang sisa pada anggaran reguler membuat penyediaan fasilitas dasar bagi populasi awal ASN dan pemeliharaan gedung pemerintahan sepenuhnya bergantung pada persetujuan usulan tambahan Rp 15,5 triliun.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan, seluruh pengajuan dana ekstra ini akan dialokasikan secara ketat untuk menjamin fungsionalitas kota secara paripurna.

"Target kami adalah memastikan IKN siap beroperasi penuh sebagai pusat pemerintahan baru yang fungsional," urai Basuki Hadimuljono dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Membatik, Ikhtiar Menjaga Akar Budaya di Kota Masa Depan IKN

Selain untuk sektor operasional dan pemeliharaan gedung KIPP yang menyerap Rp 3,2 triliun, draf usulan dana tambahan Rp 15,5 triliun tersebut dibagi ke dalam empat pos pelayanan publik lainnya:

1. Penyediaan Layanan Air Bersih dan Sanitasi (Rp 4,1 triliun)

Difokuskan untuk merampungkan jaringan pipa distribusi akhir ke blok hunian aparatur sipil negara (ASN) serta sistem pengolahan limbah domestik.

2. Teknologi Informasi dan Jaringan Siber Kota Pintar (Rp 3,5 triliun)

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau