Penulis
Jika dipaksakan dalam waktu dekat, potensi IKN hanya mentok sebagai lokasi penyimpanan aset (wealth parking).
Pada fungsi ini pun, IKN akan sulit bersaing dengan Labuan IBFC milik Malaysia yang telah matang sejak tahun 1990.
Untuk memproyeksikan IKN sebagai alternatif Singapura, diperlukan komitmen dana yang masif serta waktu yang sangat panjang.
Sebaliknya, Bali dinilai jauh lebih realistis untuk mengejar momentum pengalihan dana internasional saat ini karena beberapa faktor penentu.
Bali dikenal sebagai destinasi pariwisata dan gaya hidup kelas atas, sementara IKN baru terbentuk sebagai pusat administrasi negara.
Bali menjadi salah satu gerbang utama penerbangan internasional ke Indonesia. Adapun IKN masih dalam tahap pembangunan infrastruktur transportasi dasar.
Baca juga: SMA Taruna Nusantara IKN Tampung 477 Siswa
Di sisi penyediaan fasilitas ekonomi, Pulau Dewata didukung KEK Sanur dan KEK Kura Kura Bali dengan insentif pajak khusus. Sedangkan IKN masih menyusun regulasi teknis kluster ekonomi.
Karakteristik Bali lebih menyerupai Monako, yang sukses memposisikan diri sebagai pusat pengelolaan kekayaan (wealth management) dan destinasi tempat tinggal premium bagi kaum elite dunia, ketimbang menjadi pusat bisnis regional yang padat.
Kendati Bali diunggulkan secara momentum, kota ini belum sepenuhnya siap bertransformasi total menjadi PFI.
Hendra mengingatkan, Bali masih mencatat pekerjaan rumah besar pada sektor transportasi umum, ketersediaan tenaga kerja ahli perbankan, kapasitas bursa saham internasional, serta isu lingkungan akut seperti kemacetan, banjir, dan sistem pengelolaan sampah (waste management).
Baca juga: Biaya Operasional dan Pemeliharaan Gedung di IKN Tembus Rp 585 Miliar
Di luar opsi Bali dan IKN, pemerintah disarankan melirik potensi Batam. Kedekatan geografis Batam dengan Singapura dan Malaysia menempatkannya pada posisi strategis untuk menarik HNWI dari Asia Tenggara, Vietnam, dan Thailand.
Menurut Hendra, Batam memiliki peluang besar untuk dikembangkan melampaui fungsinya saat ini yang hanya sekadar pusat industri manufaktur dan pusat data (data center).
"Skenario ini mirip dengan strategi pemerintah China yang membangun Shenzhen sebagai kota alternatif pendukung bagi Hong Kong," tuntas Hendra.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang