Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Setiap musim haji, biaya penerbangan selalu jadi komponen terbesar dalam ongkos naik haji yang dibayar jemaah.
Dari 16 embarkasi yang beroperasi tahun 2026, biaya berkisar dari Rp 52,9 juta di Yogyakarta hingga Rp 60,6 juta di Surabaya, dan Embarkasi Balikpapan, berada di angka sekitar Rp 55,5 juta.
Di antara struktur biaya ini, satu bandara baru di jantung Kalimantan, sejatinya menyimpan potensi mengubah kalkulasi tersebut: Bandara Internasional Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Baca juga: Bandara IKN Bakal Jadi Embarkasi Haji, Sasar Jemaah Kalimantan dan Sulawesi
Plt Kepala Bandar Udara Internasional Nusantara, Imam Alwan, membeberkan kepada Kompas.com, sejumlah keunggulan teknis yang menurutnya layak dipertimbangkan sebagai bandara embarkasi haji baru.
"Bandara ini berpotensi menggantikan atau melengkapi peran Banjarmasin dan Balikpapan yang selama ini melayani jemaah dari Kalimantan," ujar Imam, Senin (17/8/2026).
Sebelum membahas keunggulan teknis, Imam menegaskan satu hal penting, bahwa penetapan status embarkasi haji bukan kewenangan pengelola bandara, melainkan kewenangan penuh Kementerian Haji dan Umrah, lembaga yang kini menggantikan peran Kementerian Agama dalam mengurusi penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.
Imam menjelaskan, penetapan itu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kesiapan fasilitas bandara, jumlah jemaah haji di wilayah tersebut, hingga ketersediaan asrama haji.
Baca juga: Pemeliharaan Bandara Internasional Nusantara IKN Rp 9 Miliar Per Tahun
Keputusan pun tidak berdiri sendiri. Menurut Imam, prosesnya melibatkan banyak pemangku kepentingan sekaligus, mulai dari Kementerian Haji dan Umrah, pemerintah provinsi, Kementerian Perhubungan, otoritas Customs Immigration Quarantine atau CIQ, hingga maskapai penerbangan.
Artinya, sekuat apa pun argumen teknis yang dimiliki Bandara Nusantara, keputusan akhir tetap berada di ranah politik dan administratif lintas lembaga.
Keunggulan pertama Bandara Internasional Nusantara yang ditekankan Imam adalah kemampuannya melayani penerbangan langsung pesawat wide body atau berbadan lebar dari IKN menuju Jeddah maupun Madinah, tanpa perlu transit.
Ini kontras dengan pola penerbangan haji embarkasi Kalimantan selama ini, di mana pesawat kerap harus melakukan technical landing di Bandara Kualanamu, Medan, untuk pengisian bahan bakar tambahan sebelum melanjutkan penerbangan ke Arab Saudi.
Baca juga: Jet Pribadi Makin Sering Mendarat di Bandara Internasional Nusantara IKN
Dengan rute langsung tanpa singgah di Medan, Imam memperkirakan penghematan waktu tempuh bisa mencapai 1,5 jam per penerbangan.
Bagi jemaah haji yang mayoritas berusia lanjut, pengurangan waktu perjalanan sepanjang itu bukan angka kecil, mengingat daya tahan fisik jemaah lansia menjadi salah satu perhatian utama Kementerian Haji dan Umrah dalam setiap musim haji.
Keunggulan teknis ini diperkuat spesifikasi Bandara Internasional Nusantara yang dirancang memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter, menjadikannya runway terpanjang di seluruh Pulau Kalimantan.
Dimensi ini dikategorikan ultimate dan mampu mengakomodasi pesawat terbesar di dunia, termasuk Boeing 777-300ER dan Airbus A380, dua tipe pesawat yang lazim digunakan maskapai untuk penerbangan haji jarak jauh.
Baca juga: Kapan Bandara Internasional Nusantara IKN Resmi Dibuka untuk Umum?