Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Sebaran HMPV, DKK Balikpapan Aktifkan Kembali Tim Gerak Cepat

Kompas.com, 8 Januari 2025, 15:11 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Dinas Kesehatan Kota Balikpapan akan mengaktifkan kembali peran Tim Gerak Cepat (TGC) untuk mencegah dan mengantisipasi penyebaran virus Human Metapneumovirus (HMP).

HMPV diketahui telah merebak di China, dan menyebar dengan cepat ke negara lainnya. 

Bahkan, di Singapura dan Malaysia sebagai negara terdekat dengan Balikpapan, terjadi lonjakan kasus HMPV.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Alwiati menuturkan, TGC yang telah bekerja dengan baik saat pandemi Covid-19 tiga tahun lalu, tetap harus berjalan dan diaktifkan kembali.

Baca juga: Tangkal Wabah HMPV, Bandara SAMS Sepinggan Akan Perketat Pengawasan

"Ini tidak boleh putus. TGC tetap harus berjalan. Di setiap klinik, fasilitas kesehatan harus membentuk TGC. Karena itu untuk kewaspadaan, itu harus diaktifkan kembali. Yang sempat vakum ayo diaktifkan kembali ya," ujar Alwiati, di Balikpapan, Rabu (8/1/2025).

Selain itu, kendati belum ada suspek HMPV di Balikpapan, namun Dinas Kesehatan Kota Balikpapan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait.

Terutama Balai Kesehatan Kekarantinaan (BKK) Kelas I Balikpapan yang akan memperketat pengawasan baik di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, perbatasan, terminal-terminal, maupun di pelabuhan-pelabuhan sebagai pintu masuk.

Hal ini karena Balikpapan merupakan kota terbuka yang dikunjungi ribuan orang, dan telah mengalami lonjakan populasi melalui pintu-pintu masuk darat, laut, dan udara tersebut.

Alwiati mengungkapkan, kewaspadaan dan kesiapsiagaan ini dilaksanakan seiring dengan terbitnya Surat Edaran Menteri Kesehatan tahun 2025.

Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik, karena Dinas Kesehatan Kota Balikpapan telah mengambil langkah-langkah strategis antisipatif.

Adapun HMPV, menurut Alwiati, bukanlah virus baru, sudah dikenal dalam dunia medis, umumnya tidak berbahaya, dan tidak mematikan. 

HMPV berbeda dengan Covid-19 yang merupakan virus baru, sedangkan HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu.

Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik.

Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk, demam, pilek, dan sesak napas.

Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus.

Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi.

Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak-anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.

Karena itu, Alwiati mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika muncul gejala yang mencurigakan.

"Kalau ada yang sakit, segera lakukan pemeriksaan kesehatan. Kemudian nanti fasilitas kesehatan juga kami harapkan segera melaporkan jika melihat ada pasien dalam gejala-gejala tersebut," tuntas Alwiati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau