Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 20 Juli 2025, 20:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin menunjukkan geliat kehidupannya.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik Troy Pantouw, secara tegas mengonfirmasi bahwa ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) telah bekerja dan beraktivitas di pusat kota baru Indonesia ini.

Kehadiran mereka membuktikan bahwa IKN bukan lagi sekadar proyek di atas kertas, melainkan sebuah realitas yang tengah dibangun dan dihuni.

"Ribuan ASN sudah ada yang bekerja dan beraktivitas di IKN. Ini menunjukkan IKN sudah hidup dan berdenyut dengan kegiatan pemerintahan," ujar Troy kepada Kompas.com, Kamis (16/7/2025).

Baca juga: Pembangunan Jalan IKN Lampaui Target, Deviasinya Positif

Troy mengungkapkan, ada total sekitar 1.200 ASN, yang terdiri dari personel Otorita IKN sendiri serta perwakilan dari Kementerian Kesehatan, secara aktif berkantor dan menjalankan tugas-tugas pemerintahan di IKN.

Angka ini menjadi indikator penting bahwa fasilitas dasar dan lingkungan kerja sudah mulai siap menyambut para birokrat.

Tak hanya ASN, geliat pembangunan IKN juga didorong oleh kehadiran sekitar 3.000 pekerja konstruksi.

Baca juga: Pembangunan IKN Dikebut, Progres Jalan Tembus 10 Persen

Mereka sibuk di berbagai proyek infrastruktur yang tersebar di seluruh kawasan, memastikan percepatan pembangunan IKN sesuai target yang telah ditetapkan.

Kombinasi antara kehadiran ASN dan pekerja konstruksi ini menciptakan ekosistem yang dinamis dan berorientasi pada kemajuan.

HUT RI Skup Lokal 

Dengan ribuan ASN dan pekerja konstruksi yang sudah aktif di IKN, muncul wacana mengenai kemungkinan penyelenggaraan upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di IKN secara lokal.

Menanggapi hal ini, Troy menyatakan bahwa Otorita IKN akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan pemerintah pusat melalui Sekretariat Negara (Setneg).

Baca juga: Demi Percepatan Tahap II IKN, 3.000 Pekerja Dilibatkan

"Bilamana memang upacara HUT RI itu dapat diselenggarakan [di IKN]," tambahnya, mengisyaratkan bahwa keputusan akan didasarkan pada kesiapan menyeluruh dan arahan dari pemerintah pusat.

Jika terealisasi, upacara HUT RI di IKN tidak hanya akan menjadi simbol sejarah, tetapi juga penanda resmi dimulainya era baru bagi Indonesia dengan ibu kota negara yang modern, berkelanjutan, dan telah "hidup" sepenuhnya.

Ini akan menjadi momen monumental yang disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia, menegaskan komitmen pemerintah untuk mewujudkan visi IKN sebagai kota masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau