Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak ingin sekadar menjadi ibu kota fungsional yang dipenuhi gedung cerdas (smart city) dan infrastruktur digital. IKN juga mengincar jiwa peradaban baru Indonesia.
Penegasan visi ini terlihat dalam pelaksanaan Aanwijzing Sayembara Desain Bangunan dan Kawasan Pusat Kebudayaan IKN yang digelar Otorita IKN di KIPP, Jumat (21/11/2025).
Baca juga: Otorita IKN Luncurkan Perka Regulasi KPBU, Jamin Kepastian Investasi
Aanwijzing (penjelasan teknis) yang dihadiri 53 peserta terseleksi ini menjadi momen krusial untuk menyelaraskan antara ambisi arsitektural dan kedalaman filosofis identitas bangsa.
Lokasi Pusat Kebudayaan IKN bukan dipilih secara acak. Ia ditempatkan dalam satu garis lurus pada Sumbu Kebangsaan, bersama dengan Istana Negara, Plaza Bhinneka Tunggal Ika, Kantor Otorita IKN, dan Masjid Negara.
Penempatan ini memiliki makna filosofis yang dalam sebagai pilar yang setara dengan politik (Istana) dan spiritual (Masjid), menegaskan bahwa budaya adalah fondasi identitas ibu kota.
Baca juga: Korsel Kucurkan Hibah Water Purification dan Smart City Center IKN
Kawasan ini akan dipecah menjadi Plaza Demokrasi dan Plaza Adi Budaya, yang akan menampung museum, perpustakaan, galeri seni, dan gelanggang olahraga.
Ini adalah cetak biru untuk ekosistem yang menumbuhkan kreativitas, pengetahuan, dan interaksi publik.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menantang para peserta sayembara untuk mencurahkan semua inovasi terbaik.
Pesan kuncinya adalah hak cipta desain akan berada di Otorita IKN, menandakan bahwa karya yang dihasilkan akan menjadi aset dan warisan abadi milik negara.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Diana Kusumastuti, memperkuat pesan tersebut melalui video daring, dengan menyatakan bahwa pusat kebudayaan adalah fondasi identitas
Baca juga: Pasca IKN dan RDMP, Penjualan Properti Balikpapan Anjlok 45 Persen
"Pusat kebudayaan bukan sekadar bangunan, tetapi titik temu antara identitas dan masa depan, antara kearifan lokal dan dialog global, antara kreativitas masyarakat dan dinamika ekonomi," ujar Diana.
Restu Gunawan, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, menambahkan bahwa desain harus mampu mewakili jiwa Nusantara, sehingga setiap pengunjung (domestik maupun internasional) yang datang ke IKN akan merasakan Indonesia ada di sini.
Sisi yang paling tajam dari aanwijzing ini adalah pelibatan narasumber dari berbagai latar belakang budaya dan kelembagaan lokal.
Kehadiran Yulianus Henock Sumual (DPD RI Dapil Kaltim), Syaharie Jaang (PDKT Dayak), dan perwakilan LAP Penajam Paser Utara menunjukkan komitmen IKN untuk memastikan bahwa desain Pusat Kebudayaan mencerminkan kearifan lokal dan budaya Dayak yang menjadi genius loci (roh tempat) Kalimantan Timur.
Baca juga: Banggar DPR Amankan Dana IKN Rp 48,8 Triliun, Ekonomi Kaltim Melesat 7 Persen
Selain itu juga menghindari pembangunan monolitik yang asing bagi daerah, dan sebaliknya menciptakan ruang interaksi inklusif yang merayakan keberagaman nasional.
Melalui sayembara ini, IKN tidak hanya mencari arsitektur yang indah, tetapi rancangan kawasan yang mampu menciptakan ruang publik dengan kebanggaan nasional yang kuat, menghidupkan ekosistem seni-budaya, dan menjadi pusat interaksi inklusif bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang