Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Sebuah siluet agung berpendar, memecah keheningan malam di jantung rimba Kalimantan Timur dengan cahaya yang syahdu.
Foto-foto udara yang tertangkap kamera drone nir-awak milik Sandi Raiwan pada medio Februari 2026, memperlihatkan sebuah mahakarya arsitektur yang tegak berdiri di atas bukit, memancarkan aura sakral yang mendalam.
Inilah Basilika Santo Fransiskus Xaverius. Sebuah bangunan yang seolah "tumbuh" dari tanah Nusantara, diproyeksikan menjadi titik temu antara keilahian, kemanusiaan, dan keasrian alam di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Baca juga: Rusun ASN IKN Dilengkapi Smart Home System, Standar Baru Hunian Birokrat
Namun, di balik kemegahan fasadnya yang berakar pada lokalitas, gereja ini menyimpan lompatan teknologi yang menjadikannya salah satu tempat ibadah paling canggih di Asia Tenggara.
Berbeda dengan gereja katedral konvensional yang mengandalkan sistem manual, Basilika Nusantara mengadopsi visi IKN sebagai smart city ke dalam instrumen liturginya.
Elemen paling ikonik, yakni lonceng dan salib raksasa, didatangkan khusus dari Belanda dan dioperasikan sepenuhnya secara digital.
Wakil Menteri Agama (Wamenag), Muhammad Syafi’i, mengungkapkan bahwa integrasi teknologi ini merupakan jembatan antara tradisi Eropa dan modernitas Indonesia.
Pengoperasian digital memungkinkan pengaturan presisi untuk dentang lonceng liturgi serta sistem pencahayaan salib yang sinkron dengan kalender gerejawi.
Baca juga: Sejarah Terukir, Ribuan Jamaah Tarawih Perdana di Masjid Negara IKN
"Pemasangannya ditargetkan rampung bulan depan, Maret 2026, sehingga persiapan peribadatan dan pertemuan para uskup yang digelar Mei 2026 dapat berjalan sesuai rencana," tegas Syafi’i, sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis (19/2/2026).
Langkah digitalisasi ini bukan sekadar gaya-gayaan. Ia adalah solusi atas efisiensi operasional di tengah kota cerdas, di mana setiap elemen infrastruktur diharapkan mampu terhubung dalam jaringan yang terintegrasi.
Meski sarat teknologi, Basilika ini tidak meninggalkan identitas tropisnya. Principal Architect Titik Garis Bidang, Mei Mumpuni, merancang bangunan ini dengan filosofi "Bangunan yang Bernafas".
Respons terhadap iklim tropis diwujudkan melalui penggunaan ventilasi alami yang masif, mengurangi ketergantungan pada pendingin udara buatan yang boros energi.
Baca juga: Salat Tarawih Perdana di Masjid Negara IKN, Disiarkan secara Langsung
Secara visual, atap vernakular Nusantara mendominasi massa bangunan. Desain ini memberikan naungan dari terik surya sekaligus menciptakan efek nave (ruang tengah) yang tinggi dan megah, memberikan pengalaman ruang yang transenden bagi umat yang beribadah di dalamnya.
Keunikan lainnya adalah penerapan "Sains Nusantara". Mei Mumpuni menggunakan patokan angka kemerdekaan Indonesia, 17, 8, dan 45, pada setiap ukuran penting bangunan, mulai dari tinggi Menara Lonceng hingga dimensi Altar.
Ini adalah pernyataan politik-arsitektural bahwa iman Katolik di IKN berakar kuat pada identitas kebangsaan yang mandiri.