Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Canggih, Elemen Liturgi Basilika Nusantara IKN Dioperasikan secara Digital

Kompas.com, 20 Februari 2026, 04:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Sebuah siluet agung berpendar, memecah keheningan malam di jantung rimba Kalimantan Timur dengan cahaya yang syahdu.

Foto-foto udara yang tertangkap kamera drone nir-awak milik Sandi Raiwan pada medio Februari 2026, memperlihatkan sebuah mahakarya arsitektur yang tegak berdiri di atas bukit, memancarkan aura sakral yang mendalam.

Inilah Basilika Santo Fransiskus Xaverius. Sebuah bangunan yang seolah "tumbuh" dari tanah Nusantara, diproyeksikan menjadi titik temu antara keilahian, kemanusiaan, dan keasrian alam di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Baca juga: Rusun ASN IKN Dilengkapi Smart Home System, Standar Baru Hunian Birokrat

Namun, di balik kemegahan fasadnya yang berakar pada lokalitas, gereja ini menyimpan lompatan teknologi yang menjadikannya salah satu tempat ibadah paling canggih di Asia Tenggara.

Berbeda dengan gereja katedral konvensional yang mengandalkan sistem manual, Basilika Nusantara mengadopsi visi IKN sebagai smart city ke dalam instrumen liturginya.

Elemen paling ikonik, yakni lonceng dan salib raksasa, didatangkan khusus dari Belanda dan dioperasikan sepenuhnya secara digital.

Wakil Menteri Agama (Wamenag), Muhammad Syafi’i, mengungkapkan bahwa integrasi teknologi ini merupakan jembatan antara tradisi Eropa dan modernitas Indonesia.

Pengoperasian digital memungkinkan pengaturan presisi untuk dentang lonceng liturgi serta sistem pencahayaan salib yang sinkron dengan kalender gerejawi.

Baca juga: Sejarah Terukir, Ribuan Jamaah Tarawih Perdana di Masjid Negara IKN

"Pemasangannya ditargetkan rampung bulan depan, Maret 2026, sehingga persiapan peribadatan dan pertemuan para uskup yang digelar Mei 2026 dapat berjalan sesuai rencana," tegas Syafi’i, sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis (19/2/2026).

Langkah digitalisasi ini bukan sekadar gaya-gayaan. Ia adalah solusi atas efisiensi operasional di tengah kota cerdas, di mana setiap elemen infrastruktur diharapkan mampu terhubung dalam jaringan yang terintegrasi.

Filosofi "Bangunan yang Bernafas"

Meski sarat teknologi, Basilika ini tidak meninggalkan identitas tropisnya. Principal Architect Titik Garis Bidang, Mei Mumpuni, merancang bangunan ini dengan filosofi "Bangunan yang Bernafas".

Respons terhadap iklim tropis diwujudkan melalui penggunaan ventilasi alami yang masif, mengurangi ketergantungan pada pendingin udara buatan yang boros energi.

Baca juga: Salat Tarawih Perdana di Masjid Negara IKN, Disiarkan secara Langsung

Secara visual, atap vernakular Nusantara mendominasi massa bangunan. Desain ini memberikan naungan dari terik surya sekaligus menciptakan efek nave (ruang tengah) yang tinggi dan megah, memberikan pengalaman ruang yang transenden bagi umat yang beribadah di dalamnya.

Keunikan lainnya adalah penerapan "Sains Nusantara". Mei Mumpuni menggunakan patokan angka kemerdekaan Indonesia, 17, 8, dan 45, pada setiap ukuran penting bangunan, mulai dari tinggi Menara Lonceng hingga dimensi Altar.

Ini adalah pernyataan politik-arsitektural bahwa iman Katolik di IKN berakar kuat pada identitas kebangsaan yang mandiri.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau