Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siap Jadi Penyangga IKN, Balikpapan Wacanakan Kembali Sirkuit Internasional

Kompas.com, 11 Juli 2024, 11:15 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan tengah mengkaji pembangunan sirkuit bertaraf internasional dalam mendukung fungsi dan peran strategisnya sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pembangunan sirkuit internasional ini diwacanakan kembali, setelah sempat digagas pada tahun 2013 lalu.

Wali Kota Balikpapan Ramad Mas'ud menuturkan, sirkuit ini akan dibangun di kawasan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur.

Untuk merealisasikan rencana pembangunan sirkuit ini, Pemkot Balikpapan mengundang pengelola Pertamina Mandalika International Circuit, yakni Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria.

Baca juga: Istana Negara dan Kantor Presiden Siap Digunakan Upacara HUT RI

"Kami memanggil perancang MGPA untuk membuat sirkuit. Ini dikaji dulu, bagaimana kontur tanah, desainnya, dan pembiayaannya. Yang jelas kami ingin buat sirkuit bertaraf internasional," ujar Rahmad, di Balikpapan, Kamis (11/7/2024).

Menurutnya, sirkuit internasional perlu dibangun di Balikpapan. Selain untuk mengakomodasi bakat dan talenta anak-anak muda, juga melengkapi fasilitas bertaraf internasional lainnya yang sudah ada di Balikpapan, seperti stadion sepakbola, dan convention center.

Rahmad menambahkan, Balikpapan sebagai penyangga IKN sekaligus kota meeting, incentives, convention and exhibition (MICE) harus menyediakan fasilitas-fasilitas seperti itu, termasuk kelak pacuan kuda.

Adapun terkait pembiayaan, Pemkot Balikpapan tengah melakukan kajian kelayakannya, dengan opsi menggunakan APBD atau dana pihak ketiga.

Baca juga: PSPK Disusun, di IKN Tak Ada Lagi Cerita Pasien Menunggu Berjam-jam

"Jika cukup pakai APBD akan kita anggarkan, kalau tidak cari pihak ketiga," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria mengungkapkan untuk membangun sebuah sirkuit seperti Pertamina Mandalika International Circuit, harus ditetapkan dulu tujuannya.

Tujuan tersebut menyangkut kapasitas sirkuit apakah untuk roda dua, roda empat, berskala nasional, atau internasional.

"Tujuannya harus ditentukan untuk apa ke depannya. Kalau sirkuit daerah, kapasitas bisa untuk motor 150 CC, namun tidak untuk motor 1.000 cc, misalnya," cetus Priandhi.

Kendati demikian, dia mengingatkan, Pertamina Mandalika International Circuit tidak bisa dijadikan patokan.

Baca juga: Uji Coba Jaringan Air di IKN Dilaksanakan Rabu Ini

Hal ini karena sirkuit internasional itu memang dirancang oleh Pemerintah Pusat sebagai fasilitas yang melengkapi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan luas total 1.400 hektar.

KEK Mandalika ini dikembangkan dan dikelola secara terintegrasi oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). ITDC pula yang mengembangkan dan mengelola The Nusa Dua, dan The Golo Mori.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau