Penulis
Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural of Humanity) yang ditetapkan UNESCO pada 7 Desember 2017, kapal Pinisi menjadi salah satu obyek pariwisata bahari unggulan.
Oleh karenanya, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut tengah mempersiapkan rute-rute yang akan dilalui kapal Pinisi dari Balikpapan menuju IKN.
Sementara Kemenparekraf melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (DPOP) kota/kabupaten penyangga IKN menyiapkan ekosistem pariwisata melalui penciptaan paket-paket perjalanan dengan menggandeng stakeholder perhotelan, kafe/restoran, pengrajin suvenir, dan UMKM lainnya.
Nah, "Sunset Sailing to IKN" kali ini merupakan uji coba ketiga yang dijalani Kapal Pinisi Kita Nusantara.
Co-founder Pinisi Kita Nusantara Achmad Aldri mengungkapkan, kapasitas selalu terpenuhi dalam setiap uji coba.
"Peminatnya luar biasa banyak. Mereka tak hanya berasal dari Balikpapan, juga Penajam Paser Utara, Medan, Banda Aceh, Jakarta, hingga Makassar," ungkap Aldri.
Para penumpang ini tertarik ikut berlayar dengan Pinisi karena ingin merasakan perjalanan melalui laut menuju IKN.
Sebagaimana dikatakan oleh Nasrullah, penduduk Paser, yang sengaja membeli tiket seharga Rp 250.000 per orang bersama istri dan anaknya.
Baca juga: Jokowi Bilang Akan Terus Kawal IKN Meskipun Sudah Tak Jadi Presiden
"Saya ke Balikpapan bersama anak istri cuma untuk naik Pinisi. Harga juga terjangkau. Saya pesan melalui platform media sosial Instagram," ujar Nasrullah.
Menurut Aldri, tarif yang diberlakukan sekitar Rp 199.000-Rp 250.000 tersebut masih berubah tergantung pada situasi dan kondisi keterisian kapal. Namun, untuk saat ini, Pinisi.id sebagai pengelola masih memberlakukan tarif subsidi.
"Kami berharap pemerintah segera menetapkan tarif tetap, seiring rute perjalanan Pinisi menuju IKN sebagai magnet pariwisata paling kuat di Kalimantan," imbuh Aldri.
Oh ya, tarif tersebut sudah termasuk welcome drink, makanan ringan, dan makanan berat untuk santap malam.
Co-founder PINISI.ID Achmad AldriSukarman tak menampik, relokasi ibu kota negara dari Jakarta ke IKN di Kalimantan Timur membawa dampak pada bisnis perkapalan Pinisi.
"Sejak dipindahnya ibu kota, permintaan kapal Pinisi makin intensif. Kami pun menempatkan dua kapal di sini, mencoba rute. Bila perlu menetap kalau memang ada dukungan dari pemerintah," ujar Sukarman.
Saat ini, dia tengah merampungkan pemesanan kapal Pinisi seorang pebisnis asal Jakarta.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya