Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Peter Yogan Gandakusuma
Pengamat Perkotaan

Peter Yogan Gandakusuma meraih gelar Master of Science Regional Planning dari The University of Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Bersama sejumlah kolega, Peter tengah mengembangkan Center for Sustainable Development Studies (CSDS) Universitas Indonesia. CSDS merupakan pusat riset dan bagian dari Center for Strategic and Global Studies (CSGS), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Kontroversi Rancangan Istana Garuda di IKN, Menggugat Peran IAI/DAI

Kompas.com, 28 Agustus 2024, 09:51 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Perlu dicatat bahwa sejarah sosial dan politik di Kepulauan Inggris dulu merupakan pemerintahan monarki atau kerajaan.

Bisa dikatakan, The United Kingdom atau Kerajaan Inggris Raya menjadi negara berdaulat dengan beberapa kumpulan negara atau kerajaan, yakni Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.

Sementara, sebutan Great Britain atau Britania Raya adalah sebuah negara yang meliputi seluruh wilayah Kepulauan Inggris dan pulau-pulau kecil sekitarnya kecuali negara Republik Irlandia.

Acapkali lidah orang Indonesia menyebut semuanya ini sebagai Inggris, padahal tidak demikian.

Baca juga: Memahami Polemik Istana Garuda di IKN, Sebuah Karya Ilegal? (II)

Contohnya Republik Irlandia yang menempati nyaris seluruh batas geografi sebagian besar Pulau Irlandia dan lepas dari garis pantai Kepulauan Inggris atau British Isle.

Republik ini memiliki ibu kota negaranya sendiri, yakni Dublin. England sendiri adalah salah satu entitas pemerintahan yang terletak di bagian paling selatan dan mendominasi populasi dan dataran di Kepulauan Inggris.

Ibu kotanya, London, sekaligus menjadi ibu kota negara bagi keseluruhan entitas yang bernaung di bawah Kerajaan Inggris Raya.

Sebagaimana pengetahuan umum, saat ini mereka menggunakan model pemerintahan parlementer, di mana kekuasaan eksekutif dipegang oleh kepala pemerintahan, bukan kepala negara.

Terpilihnya seorang Perdana Menteri Sir Keir Starmer yang dinobatkan oleh Raja Charles III pada 5 Juli 2024 lalu bisa dikatakan mewakili kepentingan seluruh entitas negara atau kerajaan.

Dalam hal perencanaan wilayah terkait ekonomi, lingkungan dan masyarakat, maka sasaran utama NPPF adalah memastikan bahwa sistem perencanaan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dengan tiga tujuan utama, yakni: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Terkait dengan hal ini maka penyusunan rencana di suatu kota, desa, wilayah dan lingkungan akan terkait aplikasi perencanaan di mana otoritas lokal beroperasi di seluruh England saja.

NPPF menjadi payung kebijakan hukum, politik perencanaan pengembangan dan pembangunan di suatu wilayah-wilayah lokal England.

NPPF juga menjadi kerangka kebijakan yang dipatuhi ketat sejak diterbitkan pada 27 Maret 2012 serta mengalami banyak dinamika perubahan/revisi termasuk ketika masa pandemik Covid-19.

Kerangka ini merupakan bagian penting dari rencana pemerintah untuk membuat sistem perencanaan menjadi lebih sederhana, lebih mudah diakses daring, untuk melindungi lingkungan dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Hal-hal ini secara garis besar tentu akan terkait dengan perencanaan wilayah atau urban planning dan perancangan kota (urban design) yang lekat dengan wajah arsitektur perkotaan, wilayah dan lingkungan binaan (built environment).

Baca juga: Selain Masjid, Pembangunan Tempat Ibadah di IKN Masih Proses Desain

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau