Penulis
Ekonomi biru meliputi beberapa sektor yaitu perikanan, akuakultur, pelayaran, energi, pariwisata, dan bioteknologi kelautan.
Baca juga: IKN, Pemicu Kredit Konstruksi Jadi Tiga Terbesar di Kaltim
Menurut Budi, Pemprov Kaltim bisa berdayakan para nelayan untuk mengeksplorasi kekayaan alam yang ada di laut. Mengembangbiakkan, membudidayakan, atau memproduksi olahan ikan kerapu, kepiting, atau jenis-jenis ikan laut lainnya.
"Praktik ekonomi biru ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa merusak lingkungan," tutur Budi, saat media gathering, di Lombok, pekan lalu.
Kaltim sendiri memiliki potensi besar untuk lebih serius lagi meningkatkan eksplorasi SDA laut duna menopang ekonomi biru.
Sebut saja, garis pantai Provinsi Kaltim yang sepanjang 3.893,15 kilometer, melintasi delapan wilayah kabupaten/kota dari total 10 kabupaten/kota di Kaltim.
Kemudian memiliki 212 pulau, 43 kecamatan pesisir, 244.437 hektar kawasan mangrove, 105.556,55 hektar luas terumbu karang, dan 13.119 hektar padang lamun.
"Ini bisa dikelola melalui pengembangan hilirisasi dan industrialisasi yang menekankan pada prinsip-prinsip berkelanjutan dan inklusif secara sosial," cetus Budi.
Ekonomi hijau dan biru bisa dijalankan beriringan seraya transformasi perlahan diterapkan pada industri ekstraktif.
Ekonomi Kaltim sendiri pada triwulan III-2024 tetap melanjutkan pertumbuhan positif dan lebih tinggi dibandingkan dengan ekonomi Nasional dan regional Kalimantan.
Laju pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan III 2024 tercatat sebesar 5,52 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Meskipun melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Kaltim pada periode laporan tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan regional Kalimantan.
Lapangan Usaha (LU) pertambangan masih menjadi pendorong utama perekonomian Kaltim, meskipun melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akibat produksi dan permintaan batu bara yang melandai.
Selain itu, kinerja LU konstruksi juga melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sejalan dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) di komponen pengeluaran.
Hal ini seiring dengan progress pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang termoderasi pasca pelaksanaan HUT ke-79 RI hingga akhir triwulan III 2024.
Sementara itu, komponen ekspor tetap tumbuh positif didorong oleh kinerja ekspor fertilizers.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang