Penulis
Meski masih kuat, terdapat risiko moderasi yang membayangi pertumbuhan sektor pertambangan 2025, khususnya berkaitan dengan komitmen sejumlah negara untuk penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT).
LU konstruksi juga diprakirakan masih akan menopang ekonomi Kaltim sepanjang 2025 seiring masih berlanjutnya berbagai proyek investasi pemerintah dan swasta dalam jumlah besar.
Progress pembangunan IKN yang akan memasuki fase konstruksi tahap II juga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan sektor konstruksi tahun 2025.
Selanjutnya, sektor industri pengolahan juga berpotensi mengalami perbaikan pertumbuhan seiring adanya implementasi B40 tahun 2025.
Ekonomi Kaltim yang masih didominasi oleh sektor ekstraktif perlu mendapat perhatian utama ke depan.
Kondisi ini akan memberikan tantangan yang cukup besar, khususnya dalam menghadapi kondisi ketidakpastian ekonomi global ke depan.
"Hal ini karena pertumbuhan sektor ekstraktif rentan terhadap sektor eksternal," cetus Budi.
Oleh karena itu, BI bersama beberapa pemangku kepentingan melakukan upaya awal untuk mendorong transformasi ekonomi Kaltim.
Urgensi diperlukannya transformasi ekonomi juga semakin tinggi didorong oleh beberapa faktor yakni kondisi geopolitik ekonomi dunia yang semakin dinamis, status Kaltim sebagai daerah superhub pendukung logistik IKN, dan komitmen Pemerintah Pusat dan Negara Dunia untuk mendukung Net Zero Emission (NZE).
Dalam beberapa waktu terakhir, BI bersama Pemerintah Daerah dan ISEI Samarinda, membuat kajian dan mendiseminasikan kajian tersebut dalam kegiatan seminar nasional.
Dalam hasil kajian tersebut terdapat beberapa rekomendasi yang didorong untuk menyukseskan agenda transformasi ekonomi Kaltim.
Baca juga: BI Optimistis Ekonomi Penyangga IKN, Balikpapan, PPU, dan Paser Tumbuh Positif
Di antaranya pengembangan infrastruktur pendukung untuk sektor pertanian dan industri pengolahan sebagai sektor potensial untuk diverisifikasi.
Kemudian rehabilitasi dan pengelolaan lahan bekas tambang untuk pertanian, peternakan, dan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Selanjutnya peningkatan keterampilan dan pengetahuan masyarakat lokal dalam mendorong pengembangan ekonomi lokal.
Pengembangan EBT, dan pembiayaan hijau, diversifikasi ekonomi melalui pengembangan wisata lahan bekas tambang, serta penguatan perdagangan dan logistik untuk mendukung sektor industri pengolahan.
Di samping itu, BI juga bersinergi dengan Pemerintah Daerah terus melakukan upaya untuk mendorong peningkatan kegiatan investasi, khususnya pada sektor ekonomi hijau dan EBT.
"Sinergi dan kolaborasi tersebut terus digaungkan melalui program Regional Investor Relation (RIRU), yang secara aktif melakukan promosi proyek investasi strategis wilayah Kaltim hingga ke mancanegara," pungkas Budi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya