Penulis
Program belanja atau shopping program dengan berbagai gimmick kreatif, seperti hadiah bulanan atau acara tematik musiman (Ramadhan, Lebaran, Natal), terbukti efektif mendorong konsumen untuk kembali berbelanja.
Kesuksesan Balikpapan Great Sale 2025 yang mencatatkan transaksi melebihi target Rp 4 miliar menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Balikpapan masih cukup kuat jika diiming-imingi penawaran menarik.
Pelemahan daya beli yang dihadapi mal-mal di Kaltim tidak hanya dipengaruhi faktor lokal, tetapi juga ketidakpastian ekonomi global.
Untuk mengatasi tantangan ini, pengelola mal harus memutar otak menerapkan sejumlah strategi adaptif:
1. Menggenjot Kreativitas Event dan Program Belanja:
Mal tidak hanya mengandalkan diskon semata, tetapi juga menciptakan pengalaman berbelanja yang unik melalui acara keluarga dan hadiah-hadiah menarik yang dirancang secara musiman dan bulanan.
2. Memperkuat Sektor F&B dan Merangkul UMKM:
Mengikuti tren dominasi sektor kuliner, mal mengalokasikan lebih banyak ruang untuk tenant F&B.
Selain itu, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal juga mendapat perhatian khusus, terutama dalam event-event musiman bekerja sama dengan berbagai pembina.
3. Beradaptasi dengan Selera Konsumen:
Pengelola mal menyadari bahwa konsumen Kaltim memiliki perhatian tinggi terhadap fesyen dan tren terkini.
Oleh karena itu, mereka mendorong peritel seperti Matahari untuk terus memperbarui koleksi dan memanfaatkan media sosial secara gencar untuk promosi.
4. Pengembangan Konsep Mal Baru:
Pengembang seperti APL berencana membangun mal baru dengan konsep middle-up, menargetkan segmen menengah ke atas dengan menghadirkan merek-merek internasional ternama.
Langkah ini diharapkan dapat menarik konsumen dengan daya beli yang lebih stabil, didukung oleh pertumbuhan populasi Balikpapan dan proyek IKN.