Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sempat Anjlok, Kebutuhan Beton Siap Pakai IKN Kembali Meroket

Kompas.com, 29 Juli 2025, 16:21 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Industri beton siap pakai (ready mix) di Indonesia kembali bergairah setelah sempat mengalami pasang surut.

Khususnya untuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), kebutuhan akan material vital ini menunjukkan lonjakan signifikan, menandakan percepatan pembangunan yang tak terelakkan.

Ketua Asosiasi Perusahaan Beton Ready Mix Indonesia (APBRI) Yoppi Yanuar mengonfirmasi hal itu kepada Kompas.com, Selasa (19/7/2025).

Baca juga: Kaltim Bangga Punya 3 Gerbang Udara: SAMS, APT Pranoto, dan VVIP IKN

Menurutnya, kebutuhan beton siap pakai di IKN memang sempat mengalami fluktuasi tajam.

Pada tahun 2024, total konsumsi ready mix di IKN tercatat mencapai angka impresif, lebih dari 2 juta kubikasi. Namun, ada periode di mana konsumsi bulanan sempat menurun drastis.

"Dulu konsumsi IKN itu 1 bulan pernah 200.000 meter kubik, kemudian sempat 1 bulan cuma 30.000 sampai 20.000 meter kubik, nah sekarang sudah mulai naik," jelas Yoppi.

Penurunan ini disebabkan oleh periode transisi. Tahap awal pembangunan fisik utama, seperti pengerjaan fondasi dan struktur dasar dari proyek infrastruktur vital, telah selesai.

Baca juga: Komisi V DPR Blusukan di IKN, Lontarkan Pujian Mantap, Mantap

Sementara itu, proyek-proyek baru yang lebih masif belum sepenuhnya berjalan karena menunggu kepastian anggaran dan tahapan konstruksi selanjutnya.

Melonjak Tajam

Namun, memasuki semester kedua tahun ini (2025), kondisi berbalik drastis. Kebutuhan beton kembali melonjak tajam.

"Semester dua ini sudah mulai naik karena kan ada beberapa gedung pemerintah seperti Istana Wakil Presiden sekarang yang di pertengahan, kemudian gedung legislatif, yudikatif (MA), dan ada beberapa prasarana di pemerintah termasuk jalan-jalannya masih diteruskan," ungkap Yoppi.

Optimisme semakin tinggi karena sektor swasta kini juga sudah mulai masuk dan ikut mengerjakan proyek-proyek di IKN.

Baca juga: Pemerintah Tegas Lanjutkan Pembangunan IKN, Ini Komitmen Istana

Meskipun tidak selalu melalui jalur pemerintah secara langsung, keterlibatan swasta ini menambah volume kebutuhan beton secara signifikan. Untuk tahun 2025, kebutuhan ready mix di IKN diperkirakan mencapai hampir 500.000 kubikasi.

Peningkatan drastis ini tak lepas dari keputusan Kementerian Pekerjaan Umum PU yang telah mendapatkan tambahan dana dan kini secara agresif menggenjot pekerjaan konstruksi di IKN.

Meskipun Yoppi mengakui bahwa beberapa pemasok mungkin masih menghadapi tantangan terkait pembayaran, pemain besar di industri ini cenderung lebih lancar berkat pemahaman yang mendalam terhadap regulasi dan alur pembayaran proyek pemerintah.

Peluang Baru IJD Era Prabowo

Selain IKN, industri beton siap pakai juga mendapatkan angin segar dari fokus pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada Inpres Jalan Daerah (IJD).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau