Penulis
Ia mengakui, para perajin batik di Kalimantan, khususnya Balikpapan, IKN, dan Penajam Paser Utara, selama ini masih terpaku pada pakem tradisional seperti motif burung enggang atau cumi-cumi.
Akibatnya, meskipun produknya berkualitas, batik Kalimantan sulit memiliki identitas yang kuat di pasar.
"Ketika orang pegang batiknya, pertanyaan pertama adalah 'Ini batik Solo atau Jogja?' Padahal itu produk kita (Kalimantan)," ungkap Robi secara eksklusif kepada Kompas.com.
Baca juga: APBN Rp 4,73 Triliun Dikucurkan untuk Bangun Kantor DPR dan MA di IKN
Untuk menjawab masalah ini, BI Balikpapan akan memfasilitasi perjalanan 12 perajin dan pengusaha batik kelas UMKM Balikpapan ke Solo.
Kunjungan ini bertujuan untuk mengubah pola pikir mereka, memperkenalkan teknologi modern, dan yang terpenting, mengajarkan strategi pemasaran.
Mereka akan belajar bahwa batik modern bisa menggunakan warna-warna cerah dan motif yang lebih kreatif, tanpa harus kehilangan filosofinya.
Guna mempopulerkan batik Kalimantan setara dengan batik Jawa, diperlukan pendekatan modern.
Menil dan Robi sepakat bahwa digitalisasi melalui media seperti TikTok menjadi kunci untuk menjangkau generasi muda.
Lebih dari itu, keduanya menekankan pentingnya narasi dan edukasi. Setiap lembar batik yang dijual harus disertai cerita atau filosofi di baliknya.
Baca juga: Gubernur Kaltim Ingatkan Kualitas Konstruksi Jadi Kunci Penyangga IKN
Robi mencontohkan, sama seperti batik Solo yang kini dikemas dengan narasi detail, batik Balikpapan juga akan memiliki "storytelling" yang kuat, membuat pembeli merasa dihargai.
Hal ini diperkuat dengan pengemasan premium yang juga mencantumkan cara perawatan.
Sebagai bukti keseriusan, BI Balikpapan menargetkan karya-karya batik inovatif dari Balikpapan akan tampil di pameran berskala nasional, Karya Kreatif Indonesia (KKI), tahun 2026.
"Ini adalah langkah strategis untuk menempatkan batik Balikpapan sebagai produk premium yang memiliki nilai seni, filosofi, dan daya saing global," tuntas Robi.
Upaya BI Balikpapan ini disambut positif Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (DKUMKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma.
Menurutnya, terdapat 15 UMKM perajin batik Kalimantan yang dibina Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Balikpapan.
Harapannya, upaya ini akan mendorong para perajin batik memperluas pasar dan jaringan kemitraan usaha berskala nasional.
"Selain itu, juga dapat meningkatkan brand batiknya, menambah nilai ekonomis usaha batiknya dan mendapatkan wawasan serta inspirasi baru," imbuh Heru menjawab Kompas.com.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang