Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) sejatinya dirancang dengan ambisi menjadi smart forest city yang terintegrasi.
Salah satu ikon teknologi yang paling dinantikan adalah implementasi taksi terbang atau sky taxi sebagai bagian integral dari transportasi modern ramah lingkungan Urban Air Mobility (UAM), yang menjanjikan mobilitas vertikal efisien.
Baca juga: Sempat Mengaspal di Jalan Protokol IKN, Kereta Tanpa Rel Resmi Batal
Namun, rencana penggunaan taksi terbang untuk jangka pendek dan menengah dipastikan tidak menjadi prioritas dan belum akan dilanjutkan, meski uji coba teknis berjalan mulus.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memberikan pernyataan yang lugas dan menohok mengenai penundaan ini.
Bagi Basuki, kebijakan transportasi di IKN harus didasarkan pada kebutuhan riil, bukan sekadar daya tarik teknologi.
"Mobil saja belum ada, mau naik taksi terbang. Jadi belum urgent sekarang, menurut saya," kata Basuki menjawab pertanyaan Kompas.com.
Baca juga: Uji Terbang Sky Taxi IKN Buatan Hyundai Sukses, Take Off dan Landing Mulus
Saat ini, IKN baru menampung sekitar 7.000 pekerja konstruksi, sementara populasi end-user macam ASN, penduduk, dan profesional belum memadai untuk menjamin kelayakan ekonomi dan operasional moda transportasi semahal taksi terbang.
Oleh karena itu, Otorita IKN memprioritaskan penyelesaian infrastruktur dasar terlebih dahulu seperti jalan, air, listrik, dan kantor Lembaga Negara serta penyediaan kendaraan listrik darat (EV Bus) sebagai solusi mobilitas yang paling mendesak dan efisien.
Pembatalan ini semakin menarik karena uji coba teknologi taksi terbang di IKN, yang melibatkan kendaraan nirawak, secara teknis telah dilaksanakan.
Uji coba atau Proof-of-Concept (PoC) sebelumnya berhasil menarik perhatian, memperlihatkan potensi vertical mobility di atas kawasan IKN.
Baca juga: Tak Cuma EHang, Taksi Terbang IKN Buatan Hyundai Juga Sudah Uji Coba
Meskipun sukses terbang, teknologi yang ada saat ini, termasuk pada Kereta Otonom Tanpa Rel (ART) yang juga diretur ke China, menunjukkan bahwa sistem otonom (nirawak) belum sepenuhnya matang dan sering memerlukan intervensi manual.
Otorita IKN memandang bahwa teknologi canggih ini akan terus berkembang pesat.
Basuki memproyeksikan penerapan moda transportasi masa depan yang benar-benar matang baru akan dilakukan pada fase 2040 hingga 2045, di mana inovasi teknologi diprediksi akan jauh lebih efisien dan andal.
Alih-alih menunggu taksi terbang, Otorita IKN mengalihkan seluruh sumber daya dan fokus pada solusi transportasi hijau darat yang lebih realistis untuk fase awal 2026
Baca juga: Menakar Nasib Taksi Terbang IKN Ketika Tokoh Sentralnya Mengundurkan Diri
Bus Listrik akan menjadi tulang punggung transportasi publik dalam waktu dekat, sejalan dengan komitmen IKN sebagai kota yang mengedepankan Net Zero Emission.
Selain itu, pembangunan jalur pedestrian dan sepeda yang masif juga menjadi prioritas untuk mendukung mobilitas mikro yang berkelanjutan, meminimalkan kebutuhan akan kendaraan pribadi yang padat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang