Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang sebagai simbol masa depan Indonesia: sebuah kota modern, cerdas, dan berkelanjutan.
Namun, pembangunan di tengah lanskap tropis Kalimantan Timur membawa tantangan alamiah, salah satunya adalah potensi banjir.
Sejarah Kalimantan yang akrab dengan fluktuasi air, ditambah dengan data mengenai titik rawan banjir di wilayah calon ibu kota, menuntut pendekatan inovatif dan komprehensif.
IKN tak hanya ingin menghindari kesalahan masa lalu seperti Jakarta, tetapi bertekad menjadi pionir dalam resiliensi lingkungan.
Baca juga: Padi Gogo, Solusi Strategis untuk Ketahanan Pangan IKN
Otorita IKN mengambil langkah strategis dengan menggandeng para ahli dari Monash University, Australia, untuk merancang dan membangun IKN.
Kolaborasi ini berfokus pada penerapan konsep "kota tanggap air" atau sponge city. Konsep yang lahir di Australia sejak 1990-an dan telah sukses diterapkan di berbagai kota di seluruh dunia, menjadi solusi inovatif untuk mengatasi masalah lingkungan serius seperti banjir dan kekeringan.
Profesor Tony Wong dari Monash University menjelaskan, inti dari sponge city adalah memanfaatkan infrastruktur hijau untuk meniru proses alami pengelolaan air, seperti filtrasi, drainase, dan penyimpanan.
"Penerapan konsep ini telah membantu mentransformasi kota-kota di Australia dan berbagai negara lain, terutama dalam desain infrastruktur, kebijakan air, dan tata kelola," jelas Wong, dikutip Kompas.com, Rabu (2/12/2025).
Baca juga: Otorita Targetkan 60 Persen Sampah IKN Bisa Didaur Ulang
Di IKN, konsep ini akan diwujudkan dengan elemen-elemen seperti lahan basah (wetlands), saluran air dangkal (swales), dan perkerasan berpori (porous pavement).
Infrastruktur ini berfungsi ganda: membersihkan air hujan melalui biofiltrasi dan secara signifikan mengurangi risiko banjir serta kontaminasi lingkungan.
Pelatihan yang didukung oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) dan pemerintah Australia ini akan membekali pejabat Otorita IKN dengan pengetahuan dan keterampilan untuk merancang kota yang tangguh terhadap krisis air dan perubahan iklim.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Harold Pantouw, tidak menampik potensi banjir di IKN.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2020-2024, terdapat 10 titik rawan banjir di IKN.
Desa-desa dengan potensi banjir tinggi meliputi Teluk Dalam, Bukit Raya, Sungai Seluang, Muara Jawa Ulu, dan Samboja Kuala di Kecamatan Samboja dan Muara Jawa, serta Desa Bumi Harapan, Kelurahan Mentawir, Desa Suka Raja, Wonosari, dan Tengin Baru di Kecamatan Sepaku.
Baca juga: Ekonomi Kaltim Bakal Tumbuh hingga 5,3 Persen, Dipicu IKN dan Migas
Penyebab potensi banjir ini multifaktorial: "Potensi banjir ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti belum optimalnya tata ruang, curah hujan tinggi, kenaikan muka air laut, dan pembukaan lahan di hulu sungai," ujar Troy dikutip dari pemberitaan Kompas.com.
Troy memastikan, Otorita IKN terus melakukan upaya pencegahan banjir secara holistik melalui enyediaan rekomendasi kebijakan melalui Dokumen Kajian Risiko Bencana, evaluasi tata ruang berdasarkan kondisi eksisting area rawan banjir.
Selain itu, memantau dan mengawasi tutupan lahan di hulu sungai, pembangunan infrastruktur fisik pengendali banjir, rehabilitasi lahan berupa penanaman tanaman berdaya serap air tinggi.
Baca juga: Perkembangan Terbaru Istana Wapres di IKN, Tembus 86 Persen
Kemudian menerapkan sistem pemantauan berbasis teknologi, mencegah pembukaan lahan dan praktik ilegal lain yang memicu banjir.
"Jika diperlukan, merelokasi masyarakat untuk keamanan di area rawan banjir," imbuh Troy.
Untuk mendukung visi smart forest city, Otorita IKN juga mengimplementasikan Smart Water Management System (SWMS).
Sistem ini diperkuat dengan pengembangan sistem pemantauan berbasis sensor Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan Early Warning System (EWS) untuk mendeteksi titik rawan banjir secara dini.
"Kami juga melakukan pemetaan aliran sungai dan analisis topografi dengan teknologi GIS, serta menjalin kerja sama dengan BMKG untuk prediksi curah hujan," ujar Troy.
Baca juga: Mengungkap Progres Istana Wapres, Kantor Gibran Bekerja di IKN
Seluruh teknologi ini telah terintegrasi dengan Integrated Command and Control Center (ICCC) sejak akhir 2024, memungkinkan pemantauan dan respons yang lebih cepat terhadap potensi banjir.
Selain itu, upaya pengendalian banjir juga dilakukan melalui penerapan konsep Zero Delta Q (tidak ada penambahan debit air ke sungai) dan Water Sensitive Urban Development (WSUD).
Selain mitigasi banjir, komitmen IKN terhadap lingkungan juga terwujud dalam program reforestasi lahan kritis.
Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mengungkapkan bahwa hingga Oktober 2025, lebih dari 3.000 hektar lahan di IKN telah berhasil direforestasi dari total 126.000 hektar.
Baca juga: Raksasa Singapura Sembcorp, Investor PLTS Perdana di IKN Tanam Rp 900 Miliar
"Target selanjutnya adalah menambah 1.000 hektar lagi pada tahun ini, sehingga total reforestasi akan mencapai 4.000 hektar," ujar Myrna menjawab Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Upaya reforestasi ini merupakan langkah krusial dalam mewujudkan ekosistem yang lestari, dengan target jangka panjang tercapai pada 2045.
Kabar baiknya, sebagian besar upaya ini mendapatkan dukungan signifikan dari pihak swasta, menjadi modal penting dalam mempercepat pemulihan vegetasi dan menciptakan koridor ekologi yang mendukung keanekaragaman hayati.
IKN juga menunjukkan perhatian terhadap konservasi satwa liar, termasuk orangutan. Penetapan lokasi rehabilitasi Kawasan Lindung IKN Samboja Lestari sebagai hotspot keanekaragaman hayati menjadi langkah konkret.
Baca juga: Serapan Anggaran Otorita IKN Baru Rp 4,99 Triliun
"Ini salah satu komitmen kami dalam menjaga keanekaragaman hayati, termasuk mendukung konservasi orangutan, meskipun wilayah IKN bukan habitat asli satwa ini," cetus Myrna.
Saat ini, tiga organisasi, termasuk Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), aktif melakukan rehabilitasi orangutan di IKN, didukung oleh Otorita IKN.
Profesor Diego Ramírez-Lovering dari Monash University menyoroti bahwa perencanaan yang matang akan memastikan IKN mampu menghadapi tantangan di masa depan.
Kunci keberhasilan IKN adalah integrasi harmonis antara elemen manusia, alam, dan lingkungan buatan. Ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan penciptaan ekosistem kota yang utuh, di mana teknologi dan alam saling mendukung.
Baca juga: 4.100 ASN Dipindahkan Bertahap ke IKN hingga Tahun 2028
Dengan berbagai upaya komprehensif ini, mulai dari adaptasi konsep sponge city, pemanfaatan teknologi canggih untuk mitigasi banjir, hingga program reforestasi masif dan konservasi satwa, Otorita IKN berkomitmen untuk meminimalkan risiko banjir dan memastikan keamanan, kenyamanan, serta keberlanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang