Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apel Perdana 2026, Basuki Prioritaskan Kepindahan ASN Muda

Kompas.com, 6 Januari 2026, 13:40 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Senin pagi, 5 Januari 2026, suasana di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) tampak berbeda.

Lebih dari 1.100 pegawai Otorita IKN berkumpul di Multifunction Hall Kantor Bersama 3. Mereka mengikuti apel perdana tahun 2026, sekaligus mencatatkan sejarah, IKN kini siap sepenuhnya menjadi pusat gravitasi politik Indonesia.

Apel perdana ini dipimpin langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang menekankan bahwa tahun 2026 adalah titik tolak bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengubah pola pikir.

Baca juga: Siapa yang Bakal Mengelola Tol IKN?

"IKN bukan sekadar ibu kota baru bagi kita. Ini adalah ruang transformasi. Pembangunan IKN bukan hanya tentang deretan bangunan megah dan jalanan mulus, melainkan tentang membangun ekosistem pemerintahan dan kehidupan kota yang benar-benar baru untuk Indonesia," tegas Basuk.

Pemerintah menargetkan pada tahun 2028, seluruh fungsi pemerintahan pusat telah beroperasi penuh di Nusantara. Oleh karena itu, kesiapan SDM menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

Generasi Muda Motor Perubahan

Salah satu poin paling krusial dalam pidato Basuki adalah fokusnya pada ASN Muda. Dia menyadari bahwa kota masa depan harus dibangun dan dijalankan oleh mereka yang memiliki visi masa depan.

ASN generasi milenial dan Gen Z menjadi prioritas pemindahan ke IKN karena dianggap lebih adaptif terhadap teknologi dan sistem kerja digital.

Baca juga: Pemerintah Upayakan Tol IKN Dibuka Fungsional Saat Mudik Lebaran 2026

Dia juga meminta generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi motor penggerak birokrasi yang lebih ramping, cepat, dan transparan.

"Lebih dari itu, IKN dirancang sebagai smart forest city, sehingga peran anak muda sangat vital dalam mengoperasikan sistem kota yang berkelanjutan dan modern," cetusnya.

Ekosistem Ekonomi

Basuki juga meluruskan persepsi bahwa IKN hanya eksklusif bagi para pejabat. Dia menegaskan, IKN dirancang untuk menjadi mesin ekonomi baru yang inklusif, terutama bagi masyarakat lokal sekitarnya.

Kehadiran ribuan ASN di KIPP akan memicu kebutuhan layanan, mulai dari logistik, pangan, hingga jasa.

Baca juga: IKN dalam Bingkai Foto, Denyut Kehidupan, dan Hangatnya Kebersamaan

IKN akan menjadi ekosistem ekonomi di mana masyarakat lokal menjadi bagian penting dari rantai pasok kota, memastikan bahwa pembangunan ibu kota baru membawa kesejahteraan bagi penduduk asli Kalimantan.

Apel perdana 2026 ini menjadi simbol bersatunya langkah dengan fokus utama memastikan seluruh gedung kantor kementerian siap huni, mengaktifkan sistem layanan masyarakat berbasis teknologi tinggi, dan menjaga konsep smart forest city.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau