Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indeks Harga Konsumen Kaltim Resilien di Tengah Volatilitas Emas Dunia

Kompas.com, 5 Februari 2026, 23:54 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Laju inflasi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan performa yang resilien pada pembukaan tahun 2026.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Bumi Etam tercatat mengalami "pendinginan" yang sehat, seiring dengan melandainya permintaan domestik dan normalisasi mobilitas masyarakat pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026.

Data terbaru menunjukkan bahwa pada Januari 2026, Kaltim mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,04% month-to-month (mtm).

Baca juga: Stabilitas di Gerbang IKN: Balikpapan Deflasi, Sinyal Positif Daya Beli

Angka ini merosot tajam dibandingkan realisasi Desember 2025 yang sempat menyentuh level 0,71% (mtm).

Meski demikian, secara tahunan, inflasi Kaltim bertengger di level 3,76% year-on-year (yoy), sedikit melampaui rata-rata inflasi nasional yang berada di angka 3,55% (yoy).

Emas Pendongkrak IHK

Di balik melandainya harga pangan, terdapat anomali pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang menjadi kontributor utama inflasi bulan ini.

Lonjakan harga emas global yang tak terbendung di awal tahun memberikan tekanan transmisi langsung pada pasar domestik Kaltim.

Baca juga: Sinyal Kuat dari Jepang, 34 Perusahaan Lirik IKN Jadi Destinasi Investasi

Rata-rata harga logam mulia ini menyentuh angka fantastis Rp2.860.000 per gram, atau terakselerasi sekitar 12% hanya dalam waktu satu bulan.

Kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 3,17% (mtm) dengan andil terhadap IHK mencapai 0,23%.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa meski konsumsi pangan melandai, instrumen investasi berbasis aset aman (safe haven) tetap memburu likuiditas masyarakat.

Panen Raya dan Koreksi BBM Nonsubsidi

Tekanan inflasi yang lebih dalam berhasil diredam oleh Kelompok Bahan Makanan dan Transportasi.

Melimpahnya pasokan akibat panen raya di daerah sentra produksi, seperti Jawa dan Sulawesi, efektif menekan harga komoditas "pedas" (cabai merah dan cabai rawit) serta bawang merah.

Di sektor transportasi, normalisasi tarif angkutan udara pasca-puncak libur panjang menjadi angin segar.

Baca juga: Jajang Hermawan: BI Kaltim Fokus Akselerasi Pembayaran Digital dan UMKM

Selain itu, kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM nonsubsidi di awal Januari dengan kisaran 3–4% menjadi instrumen disinflasi yang vital bagi struktur biaya logistik di Kaltim.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, menegaskan bahwa stabilitas ini merupakan buah dari sinergi kebijakan yang agresif di tingkat daerah.

Menurutnya, inflasi Januari 2026 tercatat tetap terkendali seiring normalisasi harga komoditas pangan dan transportasi.

"Langkah pengendalian terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan strategi 4K yang konsisten dilakukan oleh TPID di seluruh wilayah Kaltim," ungkap Jajang, dikutip Kompas.com, Kamis (5/2/2026).

Strategi 4K dan Mitigasi Struktural TPID

Keberhasilan menahan laju inflasi di level 0,04% tidak lepas dari eksekusi strategi 4K; Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Sepanjang Januari, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltim telah menggeber sedikitnya 21 kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi pasar untuk menjaga ekspektasi harga di level konsumen.

Baca juga: Menjaga Jangkar Ekonomi, Strategi BI Balikpapan Hadapi Volatilitas 2026

Selain intervensi pasar, penguatan kapasitas kelembagaan juga menjadi fokus. Pelaksanaan capacity building TPID pada pertengahan Januari lalu menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah tidak ingin terlena dengan angka rendah, melainkan terus mempertajam akurasi pelaporan dan mitigasi risiko jangka panjang.

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Secara tahun berjalan (year-to-date), inflasi Kaltim yang berada di level 0,04% memberikan landasan pacu yang cukup stabil bagi perekonomian daerah untuk mengarungi tahun 2026.

Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS Tap

Namun, tantangan berupa penyesuaian tarif air minum PAM akibat kenaikan biaya operasional dan volatilitas harga emas dunia tetap menjadi risiko yang perlu dicermati.

Dengan target sasaran inflasi nasional yang tetap ketat, koordinasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah melalui roadmap pengendalian inflasi 2025-2027 akan menjadi penentu apakah Kaltim mampu mempertahankan daya beli masyarakatnya di tengah ambisi besar pembangunan infrastruktur dan transformasi ekonomi wilayah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau