Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Basuki Biasakan Penyebutan "Pulang Ke IKN", Alih-alih Jawa

Kompas.com, 2 Februari 2026, 11:38 WIB
Add on Google
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

NUSANTARA, KOMPAS.com - Nahkoda pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Basuki Hadimuljono, mengambil langkah cerdas dengan mengubah cara pandang pegawai Otorita IKN terhadap ibu kota negara baru tersebut, dari "tempat merantau" menjadi "rumah".

Kepala Otorita IKN tersebut membiasakan timnya untuk menggunakan kata pulang ke IKN dan kata pergi jika para pegawai ingin mengambil cuti atau libur untuk menuju ke domisili asal.

Bahkan, pria yang dikenal senang bergurau tersebut mengatakan bahwa tidak mengizinkan pegawainya mengambil cuti jika alasannya adalah "pulang ke daerah asal".

Baca juga: Ada Kolam Renang Olympic Size 50 Meter di Istana Wakil Presiden IKN

"Kalau pegawai Otorita IKN minta cuti buat pulang ke Jawa enggak saya izinkan, kalau pulang ya ke IKN," kata Basuki seraya bergurau, dikutip Kompas.com, Senin (2/2/2026).

Namun tentu saja, Basuki tetap memberikan hak cuti tersebut kepada pegawainya sesuai dengan ketentuan perundangan, asalkan mereka membiasakan menyebut perjalanan ke daerah asal adalah pergi dan ke IKN adalah pulang.

Siap Tampung ASN K/L

Fokus utama kini bergeser pada kesiapan hunian dan perkantoran bagi ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari 16 Kementerian/Lembaga (K/L).

Basuki menegaskan, koordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) serta para Sekretaris Jenderal dari 16 K/L tahap awal terus dilakukan untuk memastikan transisi berjalan mulus.

Salah satu sorotan utama dalam persiapan ini adalah rampungnya fisik hunian dan perkantoran untuk para ASN.

Baca juga: IKN Siap Tampung Pemindahan Tahap Awal ASN dari 16 Kementerian/Lembaga

"Batch I atau tahap I sudah tuntas 100 persen. Ini masuk Batch II," ujar Basuki, Jumat (30/1/2026).

Infrastruktur berikutnya yang siap adalah Istana Wakil Presiden. Basuki mengungkapkan, progres bangunan yang akan menjadi kediaman sekaligus kantor bagi Wapres Gibran Rakabuming Raka ini telah tuntas 100 persen.

"Fisiknya sudah selesai, mestinya Januari-Februari ini sudah Provisional Hand Over (PHO)," cetus Basuki.

Menariknya, Basuki membocorkan, Wapres Gibran Rakabuming Raka secara personal telah meninjau dan merasa cocok dengan fasilitas yang ada, termasuk keberadaan kolam renang yang cukup representatif.

Baca juga: Keistimewaan Cerlang Nusantara IKN yang Bikin Dewan Juri Jatuh Cinta

"Enggak ada catatan khusus (dari Mas Gibran), beliau sudah merasa cocok. Ada kolam renang di dalam, (ukurannya) 50 meter," ungkapnya.

Keseriusan perpindahan kantor Wapres ini juga terlihat dari pergerakan administratif. Sebanyak 50 orang staf Wapres telah ditugaskan untuk melakukan persiapan teknis di lapangan. Sebagian dari mereka bahkan telah menempati hunian ASN di Tower 1B.

Kelengkapan Furnitur

Meski fisik bangunan sudah berdiri kokoh, operasional penuh masih membentur satu variabel: furnitur.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau