Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kantongi Miliaran Tanpa Utang Bank, Desa Ketapanrame Mandiri Lewat Saham Rakyat

Kompas.com, 23 Mei 2026, 20:48 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Hambatan Struktural Replikasi di Kalimantan Timur dan IKN

Keberhasilan tata kelola Ketapanrame menarik perhatian berbagai pembuat kebijakan dari luar pulau Jawa, termasuk kunjungan studi banding berkala dari perwakilan wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Pertanyaan besarnya, dapatkah model crowdfunding dan pemberdayaan BUMDes ini direplikasi secara instan di Balikpapan dan koridor penyangga yang memiliki keistimewaan dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN)?

Zainal yang pernah diundang langsung ke Kalimantan untuk memetakan potensi tersebut, memberikan catatan kritis mengenai ketimpangan struktural antar-wilayah.

Replikasi sektor pariwisata buatan ala Jawa sering kali menemui jalan buntu di Kalimantan karena faktor kerapatan populasi.

Menurutnya, kondisi sosiologis di Kalimantan dan Jawa sangat berbeda. Di Kalimantan, meskipun potensi wisatanya didorong secara maksimal, kendala utamanya adalah jumlah penduduk yang sedikit dan jarak geografis yang berjauhan.

"Akibatnya, wisata buatan sulit mencapai skala keekonomian yang ramai seperti di Jawa," analisa Zainal.

Namun, Zainal menggarisbawahi bahwa inti dari replikasi bukanlah meniru bentuk wisatanya, melainkan mentransfer sistem pemberdayaan modal masyarakat melalui BUMDes.

Di wilayah penyangga IKN seperti Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser, potensi lokal yang melimpah bukan pada sektor wisata alam buatan, melainkan pada komoditas perkebunan, hilirisasi pertanian, dan industri kreatif syariah.

Momentum IKN Sebelum Terlambat

Urgensi replikasi sistem permodalan warga menjadi sangat mendesak seiring dengan percepatan pembangunan fisik IKN pada tahun 2026 ini.

Arus urbanisasi dan masuknya aparatur sipil negara (ASN) serta pekerja konstruksi berskala besar menciptakan pasar konsumsi yang sangat masif di Kalimantan Timur.

Jika struktur ekonomi desa-desa di sekitar Balikpapan dan wilayah penyangga IKN tidak segera diperkuat melalui kelembagaan BUMDes yang mandiri, masyarakat lokal dipastikan hanya akan menjadi penonton di tengah ekspansi korporasi retail nasional.

Zainal mengatakan, replikasi di Kalimantan harus difokuskan pada keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaan modal kolektif.

Baca juga: Menjaga Jangkar Ekonomi, Strategi BI Balikpapan Hadapi Volatilitas 2026

"Apa potensi lokal yang kuat di sana, itulah yang harus dikembangkan bersama masyarakat melalui BUMDes. Ini penting untuk menyambut kesiapan warga lokal sebelum IKN berjalan sepenuhnya sebagai pusat pemerintahan," tambah Zainal.

Saat ini, fungsi Kantor Perwakilan BI Balikpapan dalam menginisiasi program pendampingan keuangan, seperti survei database BISAID maupun program UMKM Go Digital, telah sejalan dengan peta jalan yang pernah dilalui Ketapanrame.

Namun, akselerasi di lapangan harus ditingkatkan agar pola pembangunan tidak berjalan lambat.

Ketika IKN resmi beroperasi sebagai pusat pemerintahan modern, desa-desa penyangga di Kalimantan Timur harus sudah memiliki produk unggulan yang siap dijual.

Mengadopsi prinsip daulat modal dari Ketapanrame adalah benteng pertahanan terbaik agar pertumbuhan ekonomi ibu kota baru dapat dinikmati secara adil, inklusif, dan berkelanjutan oleh rakyatnya sendiri.

"Model sinergi ini kini menjadi acuan strategis, terutama saat daerah penyangga di Kalimantan Timur, Balikpapan, hingga kawasan IKN tengah berkejaran dengan waktu untuk membangun ketahanan ekonomi domestiknya," pungkas Zainal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau