Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kantongi Miliaran Tanpa Utang Bank, Desa Ketapanrame Mandiri Lewat Saham Rakyat

Kompas.com, 23 Mei 2026, 20:48 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Keberlanjutan Tata Kelola dan Intervensi BI

Keberhasilan Ketapanrame meraih penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 menempatkan tata kelola crowdfunding ini sebagai percontohan nasional.

Kendati demikian, tantangan struktural yang dihadapi manajemen pariwisata berbasis komunitas pada paruh pertama tahun 2026 ini berada pada aspek pemeliharaan daya inovasi wahana guna mencegah kejenuhan pasar (market saturation).

Baca juga: Strategi BI Balikpapan Dorong UMKM Penyangga IKN Naik Kelas

Zainal menambahkan, keberlanjutan model bisnis ini bertumpu pada disiplin pengawasan anggaran dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat pengurus lapangan.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada cara mendatangkan uang atau membangun fasilitas, melainkan menjaga transparansi laporan keuangan agar kepercayaan warga selaku pemegang saham tidak runtuh.

"Setiap rupiah yang masuk harus tercatat secara digital dan dapat dipertanggungjawabkan dalam musyawarah desa," kata Zainal.

Ekosistem investasi mandiri Desa Ketapanrame membuktikan bahwa kedaulatan ekonomi daerah dapat dicapai tanpa perlu mengorbankan kepemilikan lahan kepada korporasi besar atau membebani kas desa dengan skema utang komersial.

Ketika banyak wilayah perdesaan tersingkir oleh arus modernisasi kapital perkotaan, Ketapanrame menunjukkan bahwa modal kolektif rakyat yang dikelola secara transparan mampu menciptakan mesin pertumbuhan ekonomi yang mandiri, adil, dan berkelanjutan.

Di balik kemandirian kapital ini, tak dimungkiri, intervensi kebijakan moneter dan penguatan kapasitas dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur menjadi penting dan krusial pada titik balik operasional desa.

Perjalanan Ketapanrame memang tidak selalu linier. Pasca-mencapai puncak kunjungan pada periode 2022–2023, pengelola menghadapi ancaman jenuh pasar akibat munculnya berbagai kompetitor wisata baru di wilayah sekitar.

Keterbatasan modal hulu untuk meremajakan fasilitas menjadi hambatan utama. Pada fase kritis inilah BI hadir.

Baca juga: Jajang Hermawan: BI Kaltim Fokus Akselerasi Pembayaran Digital dan UMKM

Bukan dengan menyuntikkan likuiditas mentah, melainkan melalui stimulasi sarana dan pendampingan manajemen risiko.

Zainal mengungkapkan bahwa intervensi BI menyasar pada tiga aspek struktural harian.

Ketika kunjungan mulai menurun akibat kompetitor, BI hadir memberikan motivasi dan pendampingan teknis.

Zainal dan warga desa dibantu dengan sarana prasarana modern untuk fasilitas kasir guna memudahkan akurasi transaksi digital.

"Selain itu, BI membangun penunjuk arah wisata strategis, meremajakan kursi, serta mendirikan gazebo dan gedung pertemuan untuk memfasilitasi kunjungan kelompok atau komunitas," urai Zainal.

Namun, lebih dari sekadar membenahi infrastruktur fisik pariwisata, BI juga mendorong hilirisasi komoditas pertanian lokal, khususnya kopi.

Kopi Ketapanrame yang semula dipasarkan dalam bentuk komoditas mentah dengan nilai tawar rendah, kini dinaikkan kelasnya melalui program branding terpadu oleh BI.

Langkah ini memperkuat serapan pasar domestik secara masif. Saat panen ideal, produksi kopi desa mampu mencapai 50 ton per tahun.

Baca juga: Alarm Merah Inflasi IKN Berbunyi, BI Kaltim Siapkan Jurus 4K

Di tengah menjamurnya kedai kopi modern di wilayah Mojokerto dan sekitarnya, pasokan kopi Ketapanrame diserap habis oleh pasar lokal karena memiliki keunggulan kualitas dan harga yang lebih kompetitif dibandingkan jika dipaksakan untuk pasar ekspor bawah.

Proyeksi ke depan, kawasan perkebunan kopi ini dikembangkan menjadi paket wisata alam terintegrasi (eco-tourism trip) yang mampu menaikkan pendapatan desa hingga 10–20 persen.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau