Penulis
Keberhasilan Ketapanrame meraih penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 menempatkan tata kelola crowdfunding ini sebagai percontohan nasional.
Kendati demikian, tantangan struktural yang dihadapi manajemen pariwisata berbasis komunitas pada paruh pertama tahun 2026 ini berada pada aspek pemeliharaan daya inovasi wahana guna mencegah kejenuhan pasar (market saturation).
Baca juga: Strategi BI Balikpapan Dorong UMKM Penyangga IKN Naik Kelas
Zainal menambahkan, keberlanjutan model bisnis ini bertumpu pada disiplin pengawasan anggaran dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat pengurus lapangan.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada cara mendatangkan uang atau membangun fasilitas, melainkan menjaga transparansi laporan keuangan agar kepercayaan warga selaku pemegang saham tidak runtuh.
"Setiap rupiah yang masuk harus tercatat secara digital dan dapat dipertanggungjawabkan dalam musyawarah desa," kata Zainal.
Ekosistem investasi mandiri Desa Ketapanrame membuktikan bahwa kedaulatan ekonomi daerah dapat dicapai tanpa perlu mengorbankan kepemilikan lahan kepada korporasi besar atau membebani kas desa dengan skema utang komersial.
Ketika banyak wilayah perdesaan tersingkir oleh arus modernisasi kapital perkotaan, Ketapanrame menunjukkan bahwa modal kolektif rakyat yang dikelola secara transparan mampu menciptakan mesin pertumbuhan ekonomi yang mandiri, adil, dan berkelanjutan.
Di balik kemandirian kapital ini, tak dimungkiri, intervensi kebijakan moneter dan penguatan kapasitas dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur menjadi penting dan krusial pada titik balik operasional desa.
Perjalanan Ketapanrame memang tidak selalu linier. Pasca-mencapai puncak kunjungan pada periode 2022–2023, pengelola menghadapi ancaman jenuh pasar akibat munculnya berbagai kompetitor wisata baru di wilayah sekitar.
Keterbatasan modal hulu untuk meremajakan fasilitas menjadi hambatan utama. Pada fase kritis inilah BI hadir.
Baca juga: Jajang Hermawan: BI Kaltim Fokus Akselerasi Pembayaran Digital dan UMKM
Bukan dengan menyuntikkan likuiditas mentah, melainkan melalui stimulasi sarana dan pendampingan manajemen risiko.
Zainal mengungkapkan bahwa intervensi BI menyasar pada tiga aspek struktural harian.
Ketika kunjungan mulai menurun akibat kompetitor, BI hadir memberikan motivasi dan pendampingan teknis.
Zainal dan warga desa dibantu dengan sarana prasarana modern untuk fasilitas kasir guna memudahkan akurasi transaksi digital.
"Selain itu, BI membangun penunjuk arah wisata strategis, meremajakan kursi, serta mendirikan gazebo dan gedung pertemuan untuk memfasilitasi kunjungan kelompok atau komunitas," urai Zainal.
Namun, lebih dari sekadar membenahi infrastruktur fisik pariwisata, BI juga mendorong hilirisasi komoditas pertanian lokal, khususnya kopi.
Kopi Ketapanrame yang semula dipasarkan dalam bentuk komoditas mentah dengan nilai tawar rendah, kini dinaikkan kelasnya melalui program branding terpadu oleh BI.
Langkah ini memperkuat serapan pasar domestik secara masif. Saat panen ideal, produksi kopi desa mampu mencapai 50 ton per tahun.
Baca juga: Alarm Merah Inflasi IKN Berbunyi, BI Kaltim Siapkan Jurus 4K
Di tengah menjamurnya kedai kopi modern di wilayah Mojokerto dan sekitarnya, pasokan kopi Ketapanrame diserap habis oleh pasar lokal karena memiliki keunggulan kualitas dan harga yang lebih kompetitif dibandingkan jika dipaksakan untuk pasar ekspor bawah.
Proyeksi ke depan, kawasan perkebunan kopi ini dikembangkan menjadi paket wisata alam terintegrasi (eco-tourism trip) yang mampu menaikkan pendapatan desa hingga 10–20 persen.