Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Reforestasi IKN Menuju 4.000 Hektar, Libatkan Swasta Pulihkan Ekosistem

Kompas.com, 22 April 2025, 19:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) terus menunjukkan komitmen kuat dalam memulihkan dan melestarikan lingkungan melalui program reforestasi lahan kritis dengan target ambisius.

Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN Myrna Asnawati Safitri mengungkapkan, hingga April 2025 lebih dari 3.000 hektar lahan di IKN telah berhasil direforestasi dari total 126.000 hektar.

"Target selanjutnya adalah menambah 1.000 hektar lagi pada tahun ini, sehingga total reforestasi akan mencapai 4.000 hektar," ujar Myrna kepada Kompas.com, Selasa (22/4/2025).

Myrna menjelaskan, upaya reforestasi ini merupakan langkah krusial dalam mewujudkan ekosistem yang lestari di kawasan IKN.

Baca juga: IKN Tambah 30 Tower Rusun ASN Baru, Bisa Tampung 5.400 Orang

"Target jangka panjang mungkin tercapai pada 2045, tapi ini berjalan perlahan namun pasti," imbuhnya.

Kabar baiknya, sebagian besar upaya reforestasi ini mendapatkan dukungan signifikan dari pihak swasta.

Keterlibatan aktif sektor non-pemerintah ini menjadi modal penting dalam mempercepat pemulihan vegetasi dan menciptakan koridor ekologi yang mendukung keanekaragaman hayati di IKN.

Selain reforestasi, Otorita IKN juga menunjukkan perhatian terhadap konservasi satwa liar, termasuk orangutan yang menjadi bagian dari upaya rehabilitasi di kawasan tersebut.

Penetapan lokasi rehabilitasi Kawasan Lindung IKN Samboja Lestari sebagai hotspot keanekaragaman hayati dan kawasan lindung menjadi langkah konkret dalam melindungi habitat satwa dari berbagai ancaman.

Baca juga: Tahun 2026, Pemerintah Akan Petakan Ulang ASN yang Pindah ke IKN

"Ini salah satu komitmen kami dalam menjaga keanekaragaman hayati, termasuk mendukung konservasi orangutan, meskipun wilayah IKN bukan habitat asli satwa ini," cetus Myrna.

Menurut Myrna, wilayah IKN menjadi tempat aktivitas rehabilitasi orangutan yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

“Saat ini, ada tiga organisasi yang aktif melakukan rehabilitasi orangutan di IKN. Kami mendukung keberadaan mereka untuk memastikan satwa ini dapat kembali ke kondisi optimal sebelum dilepasliarkan,” ujarnya.

Myrna menekankan pentingnya kolaborasi dan edukasi kepada masyarakat serta pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran akan status kawasan lindung di IKN.

Dengan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, IKN diharapkan dapat menjadi model pembangunan ibu kota yang tidak hanya modern tetapi juga berkelanjutan dan ramah lingkungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau