Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menjadi magnet agenda pekan ini.
Ratusan perwakilan diaspora Indonesia dari lima benua berkumpul di IKN untuk menyaksikan langsung progres pembangunan, berdialog dengan tokoh kunci, dan berjanji menjadi juru bicara bagi pembangunan Indonesia di mata dunia.
Acara spesial ini merupakan bagian dari Congress of Indonesian Diaspora (CID) ke-8 yang mengangkat tema 'Bersama Diaspora Mewujudkan IKN Menjadi Kota Dunia Untuk Semua'.
Kunjungan para diaspora diawali dengan tur eksklusif ke Istana Negara dan Istana Garuda yang dipandu langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono.
Baca juga: Diaspora Dunia Bikin IKN Meriah, Ada Bazaar hingga Wastra Nusantara
Dalam tur ini, para diaspora mendapatkan penjelasan mendalam tentang fungsi, filosofi, dan elemen simbolik dari setiap fasad arsitektur.
Pengalaman ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana IKN dirancang tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai cerminan identitas dan persatuan bangsa.
Puncak acara adalah sesi Ngobrol Santai di Istana Garuda, di mana para diaspora berinteraksi langsung dengan maestro seni, I Nyoman Nuarta, sang perancang Istana Garuda.
Nyoman menjelaskan proses kreatif di balik karyanya yang monumental dan mengapa memilih burung Garuda sebagai lambang utama istana.
Baca juga: Kongres Diaspora Indonesia Ke-8 di IKN, Dihadiri Politisi Australia
"Indonesia memiliki ribuan suku bangsa dengan keragaman budaya yang luar biasa. Jika hanya satu atau dua suku yang ditonjolkan, dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Karena itu, dipilihlah Garuda, lambang negara yang telah diterima sebagai simbol pemersatu bangsa," ujar Nyoman.
Penjelasan ini memberikan makna yang lebih dalam bagi para diaspora, bahwa Istana Garuda adalah simbol inklusif yang merangkul semua elemen bangsa.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memanfaatkan momen ini untuk memberikan pesan penting.
Ia mengajak seluruh diaspora untuk membantu menyebarkan informasi yang benar tentang IKN di kancah global.
Baca juga: Gibran Siap Ngantor di IKN, Progres Istana Wapres Mendekati 50 Persen
"Bapak-Ibu sekalian, kami mohon bantuannya untuk menyebarkan informasi yang benar tentang IKN ke lima benua. Saat ini, masih banyak informasi yang keliru beredar di masyarakat," ungkap Basuki.
Ia juga berharap para diaspora dapat kembali ke IKN dalam beberapa tahun ke depan untuk menyaksikan langsung kemajuan pembangunan yang signifikan.
Ajakan ini disambut hangat oleh para diaspora, yang menunjukkan bahwa mereka siap menjadi jembatan informasi dan diplomasi budaya antara Indonesia dan dunia.
Rasa bangga dan haru dikemukakan Evi Yuliana Siregar, seorang dosen dan peneliti di Meksiko.
Baca juga: Ribuan ASN dari 15 Kementerian Segera Pindah ke IKN
"Bagaikan mimpi bisa melihat betapa luar biasa majunya pembangunan di IKN dan menikmati hasil karya anak bangsa Indonesia. Kami siap mendukung IKN di negara masing-masing kami berada," kata Evi penuh semangat.
Kesaksian Evi mencerminkan sentimen ribuan diaspora lainnya, yang melihat IKN bukan hanya sebagai proyek pemerintah, melainkan harapan baru dan simbol kebanggaan nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang