Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diaspora Indonesia dari Lima Benua Kumpul, Janji Jadi Duta IKN

Kompas.com, 1 Agustus 2025, 11:17 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menjadi magnet agenda pekan ini.

Ratusan perwakilan diaspora Indonesia dari lima benua berkumpul di IKN untuk menyaksikan langsung progres pembangunan, berdialog dengan tokoh kunci, dan berjanji menjadi juru bicara bagi pembangunan Indonesia di mata dunia.

Acara spesial ini merupakan bagian dari Congress of Indonesian Diaspora (CID) ke-8 yang mengangkat tema 'Bersama Diaspora Mewujudkan IKN Menjadi Kota Dunia Untuk Semua'.

Tur Istana Garuda

Kunjungan para diaspora diawali dengan tur eksklusif ke Istana Negara dan Istana Garuda yang dipandu langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono.

Baca juga: Diaspora Dunia Bikin IKN Meriah, Ada Bazaar hingga Wastra Nusantara

Dalam tur ini, para diaspora mendapatkan penjelasan mendalam tentang fungsi, filosofi, dan elemen simbolik dari setiap fasad arsitektur.

Pengalaman ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana IKN dirancang tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai cerminan identitas dan persatuan bangsa.

Puncak acara adalah sesi Ngobrol Santai di Istana Garuda, di mana para diaspora berinteraksi langsung dengan maestro seni, I Nyoman Nuarta, sang perancang Istana Garuda.

Nyoman menjelaskan proses kreatif di balik karyanya yang monumental dan mengapa memilih burung Garuda sebagai lambang utama istana.

Baca juga: Kongres Diaspora Indonesia Ke-8 di IKN, Dihadiri Politisi Australia

"Indonesia memiliki ribuan suku bangsa dengan keragaman budaya yang luar biasa. Jika hanya satu atau dua suku yang ditonjolkan, dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Karena itu, dipilihlah Garuda, lambang negara yang telah diterima sebagai simbol pemersatu bangsa," ujar Nyoman.

Penjelasan ini memberikan makna yang lebih dalam bagi para diaspora, bahwa Istana Garuda adalah simbol inklusif yang merangkul semua elemen bangsa.

Duta IKN

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memanfaatkan momen ini untuk memberikan pesan penting.

Ia mengajak seluruh diaspora untuk membantu menyebarkan informasi yang benar tentang IKN di kancah global.

Baca juga: Gibran Siap Ngantor di IKN, Progres Istana Wapres Mendekati 50 Persen

"Bapak-Ibu sekalian, kami mohon bantuannya untuk menyebarkan informasi yang benar tentang IKN ke lima benua. Saat ini, masih banyak informasi yang keliru beredar di masyarakat," ungkap Basuki.

Ia juga berharap para diaspora dapat kembali ke IKN dalam beberapa tahun ke depan untuk menyaksikan langsung kemajuan pembangunan yang signifikan.

Ajakan ini disambut hangat oleh para diaspora, yang menunjukkan bahwa mereka siap menjadi jembatan informasi dan diplomasi budaya antara Indonesia dan dunia.

Rasa bangga dan haru dikemukakan Evi Yuliana Siregar, seorang dosen dan peneliti di Meksiko.

Baca juga: Ribuan ASN dari 15 Kementerian Segera Pindah ke IKN

"Bagaikan mimpi bisa melihat betapa luar biasa majunya pembangunan di IKN dan menikmati hasil karya anak bangsa Indonesia. Kami siap mendukung IKN di negara masing-masing kami berada," kata Evi penuh semangat.

Kesaksian Evi mencerminkan sentimen ribuan diaspora lainnya, yang melihat IKN bukan hanya sebagai proyek pemerintah, melainkan harapan baru dan simbol kebanggaan nasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau