Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) didengungkan sebagai kota hutan yang paling futuristik dan berkelanjutan.
Namun, di balik narasi ambisius tersebut, ancaman fundamental yang paling nyata muncul yakni kelangkaan air.
Peringatan ini datang dari kajian mendalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang secara kritis menggarisbawahi kelemahan vital dalam rencana keberlanjutan IKN.
Baca juga: Proyek Jaringan Pipa Air Bersih IKN Rp 445 Miliar Terkendala Lahan
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Laras Toersilawati, tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga menawarkan solusi revolusioner yakni memperkuat IKN dengan konsep kota spons atau sponge city yang terintegrasi, dan didukung oleh analisis data canggih.
Sebagaimana diwartakan Antara, Kamis (2/10/2025), kritik BRIN terhadap ketahanan air IKN didasarkan pada temuan ilmiah yang mengkhawatirkan.
Menggunakan citra Sentinel-2A dan analisis canggih via Google Earth Engine (GEE), Laras memetakan ketersediaan air di wilayah IKN pada periode Januari-December 2022.
Hasil yang diolah menggunakan model Jaringan Saraf Tiruan (JST) atau Artificial Neural Network(ANN), sebuah metode yang diklaim lebih unggul dari statistik konvensional, menunjukkan komposisi air yang timpang.
Baca juga: Balikpapan Krisis Air, Hashim Bakal Bangun Bendungan Besar di IKN
Indikator Ketersediaan Air berupa Non-Air (NW) sebanyak 79,08 persen, Air Vegetasi (VW) 20,41 persen, dan Air Tinggi (HW) 0,51 persen.
Angka 79,08 persen untuk kategori Non-Air (NW) menjadi alarm merah. Meskipun data ini berasal dari awal proyek, tingginya persentase lahan yang bukan air permukaan atau air vegetasi menunjukkan bahwa IKN memiliki kerentanan struktural terhadap pasokan air yang tidak bisa diabaikan.
Hal ini terutama di tengah masifnya alih fungsi lahan dari hutan industri eucalyptus menjadi kawasan terbangun.
Laras memperingatkan bahwa jika kebutuhan air tidak terpenuhi, dampaknya akan menjalar luas.
Baca juga: Tingkatkan Akses Air Bersih Balikpapan, PTMB Bakal Gandeng KKT
Selain menyebabkan berkurangnya hari hujan dan curah hujan akibat perubahan iklim, kelangkaan ini akan menimbulkan dua krisis mendesak.
Pertama, penurunan kualitas air, di mana air berpotensi menjadi asam dan tercemar zat besi.
Kedua, dampak sosial brua peningkatan kebutuhan air bersih yang signifikant akibat masuknya pendatang baru yang tertarik ke IKN.
Menghadapi ancaman ini, usulan utama BRIN adalah percepatan implementasi konsep Kota Spons.
Baca juga: Heboh Salim Group Kuasai Pengelolaan Air Minum di IKN, Ini Kata PU