Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelangkaan Air Mengancam IKN, Ini yang Harus Dilakukan Otorita

Kompas.com, 2 Oktober 2025, 22:11 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) didengungkan sebagai kota hutan yang paling futuristik dan berkelanjutan.

Namun, di balik narasi ambisius tersebut, ancaman fundamental yang paling nyata muncul yakni kelangkaan air.

Peringatan ini datang dari kajian mendalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang secara kritis menggarisbawahi kelemahan vital dalam rencana keberlanjutan IKN.

Baca juga: Proyek Jaringan Pipa Air Bersih IKN Rp 445 Miliar Terkendala Lahan

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Laras Toersilawati, tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga menawarkan solusi revolusioner yakni memperkuat IKN dengan konsep kota spons atau sponge city  yang terintegrasi, dan didukung oleh analisis data canggih.

Sebagaimana diwartakan Antara, Kamis (2/10/2025), kritik BRIN terhadap ketahanan air IKN didasarkan pada temuan ilmiah yang mengkhawatirkan.

Menggunakan citra Sentinel-2A dan analisis canggih via Google Earth Engine (GEE), Laras memetakan ketersediaan air di wilayah IKN pada periode Januari-December 2022.

Hasil yang diolah menggunakan model Jaringan Saraf Tiruan (JST) atau Artificial Neural Network(ANN), sebuah metode yang diklaim lebih unggul dari statistik konvensional, menunjukkan komposisi air yang timpang.

Baca juga: Balikpapan Krisis Air, Hashim Bakal Bangun Bendungan Besar di IKN

Indikator Ketersediaan Air berupa Non-Air (NW) sebanyak 79,08 persen, Air Vegetasi (VW) 20,41 persen, dan Air Tinggi (HW) 0,51 persen.

Angka 79,08 persen untuk kategori Non-Air (NW) menjadi alarm merah. Meskipun data ini berasal dari awal proyek, tingginya persentase lahan yang bukan air permukaan atau air vegetasi menunjukkan bahwa IKN memiliki kerentanan struktural terhadap pasokan air yang tidak bisa diabaikan.

Hal ini terutama di tengah masifnya alih fungsi lahan dari hutan industri eucalyptus menjadi kawasan terbangun.

Dampak Berantai Kelangkaan Air

Laras memperingatkan bahwa jika kebutuhan air tidak terpenuhi, dampaknya akan menjalar luas.

Baca juga: Tingkatkan Akses Air Bersih Balikpapan, PTMB Bakal Gandeng KKT

Selain menyebabkan berkurangnya hari hujan dan curah hujan akibat perubahan iklim, kelangkaan ini akan menimbulkan dua krisis mendesak.

Pertama, penurunan kualitas air, di mana air berpotensi menjadi asam dan tercemar zat besi.

Kedua, dampak sosial brua peningkatan kebutuhan air bersih yang signifikant akibat masuknya pendatang baru yang tertarik ke IKN.

Menghadapi ancaman ini, usulan utama BRIN adalah percepatan implementasi konsep Kota Spons.

Baca juga: Heboh Salim Group Kuasai Pengelolaan Air Minum di IKN, Ini Kata PU

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau