Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Baru 4 Hari Jadi Deputi, Agung Indrajit Tancap Gas Lobi Korea dan PBB untuk IKN

Mantan Kepala Pusat Data dan Informasi Bappenas yang menggantikan Mohammed Ali Berawi, ini telah memulai langkah-langkah strategis untuk mewujudkan visi IKN sebagai kota cerdas dan hijau berkelas dunia.

Kepada Kompas.com, Selasa (15/7), Agung memaparkan rencana ambisiusnya untuk menjadikan IKN sebagai pusat (hub) teknologi, sains, rekayasa, dan pengetahuan.

Oleh karena itu, Agung akan melobi dan melakukan pendekatan persuasif dengan mengajak pihak-pihak strategis seperti Korea dan UN Global Pulse Asia Pacific (UNGP-AP) untuk berkiprah di IKN.

"Kehadiran UNGP-AP sangat strategis. Sebagai program di bawah Sekretaris Jenderal PBB yang beranggotakan kumpulan ahli data scientist di Asia Pasifik dan berkantor di Jakarta, keterlibatan mereka akan memperkuat ekosistem inovasi dan riset di IKN," tutur Agung.

Langkah ini diharapkan dapat mendorong transformasi menuju masa depan yang damai, produktif, inklusif, dan menjaga lingkungan.

Dengan langkah cepat dan komitmen kuat yang ditunjukkan Agung Indrajit, IKN semakin memantapkan posisinya sebagai kota masa depan yang cerdas, hijau, dan berdaya saing global, dengan partisipasi aktif dari seluruh elemen bangsa.

Teknologi sebagai Pilar Utama dan Standar Global

Selain itu, Agung juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan memperkuat fondasi yang telah diletakkan oleh pendahulunya.

"Kebijakan sebelumnya pastinya tidak ada yang mubazir. Akan dijadikan fondasi untuk implementasi kota cerdas, hijau, dan berwawasan lingkungan," ujar Agung.

Agung menggarisbawahi peran krusial teknologi sebagai mainstreaming di setiap inisiatif IKN, baik dari sisi sosial, lingkungan, maupun ekonomi.

Visi besar IKN adalah menjadi kota global yang mampu menyejahterakan masyarakatnya sekaligus menjaga lingkungan.

Untuk mencapai standar kota cerdas yang diakui secara global, Otorita IKN akan mengintensifkan penerapan standar ISO dan SNI, termasuk ISO Smart City dan ISO 19152-4.

Penerapan standar ini akan memastikan IKN dibangun sebagai kota cerdas berwawasan lingkungan yang memiliki daya saing ekonomi tinggi, selaras dengan program pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.

Wujudkan Smart Community

Menurut Agung, pembangunan IKN tidak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya keterlibatan pengusaha lokal, di samping mendorong investasi asing langsung (FDI) dan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Yang tak kalah vital adalah partisipasi masyarakat. "Tujuan dari semua kota cerdas adalah masyarakatnya yang cerdas (smart community)," jelasnya.

Komitmen ini terlihat dari rapat terbaru dengan Forum Komunikasi Pengusaha, membahas berbagai aspek pembangunan sesuai arahan Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono yang menekankan orientasi hasil, inklusivitas, dan akuntabilitas.

https://ikn.kompas.com/read/2025/07/15/221444487/baru-4-hari-jadi-deputi-agung-indrajit-tancap-gas-lobi-korea-dan-pbb-untuk-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com