Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Singapura, Rujukan Otorita Mengelola Ekosistem Perkotaan di IKN

Kompas.com, 7 April 2024, 07:15 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Singapura dijadikan sebagai rujukan sekaligus pembanding bagi Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) untuk mengelola IKN.

Hal ini menyusul krusialnya pembangunan infrastruktur dalam membentuk ekosistem perkotaan di IKN.

IKN sebagai perwujudan cita-cita bangsa dengan visi “Kota Dunia untuk Semua” memiliki Key Performance Indicators (KPI) serta konsep-konsep pembangunan yang ambisius.

Maka, pembangunan infrastruktur di IKN tidak dapat hanya mengandalkan praktik business-as-usual.

Baca juga: Starlink Milik Elon Musk Akan Diuji Coba di IKN Mei 2024

OIKN selaku regulator terus berupaya untuk mencari dan mempelajari inovasi-inovasi baru dalam upaya untuk mengimplementasikan teknologi state-of-the-art untuk pembangunan infrastruktur dasar di IKN.

Di Singapura, OIKN mempelajari desain serta mengunjungi major infrastructures yang sudah berhasil mengimplementasikan teknologi yang praktikal, terbarukan, dan termutakhir.

Kegiatan Benchmarking bersama CLC Singapura menunjukkan betapa pentingnya integrasi teknologi digital dan hijau untuk membangun kota yang berkelanjutan dan efisien.

Singapura telah berhasil menerapkan solusi inovatif yang meningkatkan kualitas hidup penduduknya dan di saat yang sama juga dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Baca juga: Konsep Strategi Pertahanan IKN Berbasis Siber

Beberapa titik yang dikunjungi antara lain Common Services Tunnel (CST) dan District Cooling System (DCS) di Marina Bay, Battery Energy Storage System (BESS) dan Waste Incineration Plant di Jurong, Floating Solar Farm di Tuas, serta Utility Service Duct (USD) dan Pneumatic Waste Conveyance System (PWCS) di Tengah.

Lokasi-lokasi ini dipilih karena memiliki elemen-elemen krusial yang dapat menjadi preseden dan referensi dalam pembentukan ekosistem perkotaan di IKN yang modern dan terbarukan.

Salah satunya, sebagai pendukung proses perencanaan, pembangunan, serta pengelolaan Multi Utility Tunnel (MUT) yang saat ini tengah dikembangkan untuk pembangunan di IKN.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Silvia Halim mengatakan, Singapura contoh bagus untuk penerapan sejumlah teknologi dan pengembangan dari Common Service Tunnel, Utility Service Ducts, pengolahan limbah, pengolahan air, dan pengolahan sampah.

Baca juga: Ini Dampak Kehadiran Kereta Cepat Brunei-IKN

"Kami membutuhkan pengalaman untuk melihat langsung bagaimana implementasi dari teknologi tersebut. Selain itu, kami juga mendapatkan pemahaman mengenai perencanaan dan operasi yang telah berhasil diterapkan” ucap Silvia, dikutip Kompas.com, Minggu (7/4/2024).

Selain itu, OIKN juga berupaya membina hubungan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik lokal maupun internasional sebagai rekan untuk bertukar informasi dan bersama-sama membangun IKN.

Direktur Eksekutif Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura Yong Po menambahkan, penting untuk berkolaborasi erat antara pemerintah Indonesia dan Singapura untuk belajar dari satu sama lain tentang berbagai masalah perkotaan dan solusi untuk membuat kota kita masing-masing menjadi lebih baik di masa depan.

Baca juga: Berkat IKN, e-Walk dan Pentacity Dibanjiri Pengunjung dan Peritel Menengah Atas

"Satu saran kami adalah untuk terus mendorong Otorita Ibu Kota Nusantara untuk tetap bersikap visioner. Masih banyak kesempatan untuk belajar dan kami siap untuk terus berbagi pengalaman dan bertukar pengetahuan" ucap Hugh Lim, Direktur Eksekutif Centre for Livable Cities (CLC) yang merupakan bagian dari Ministry of National Development (MND) Singapura.

Percepatan pembangunan di IKN tidak hanya bertujuan untuk mencapai target operasi untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), namun juga memberikan nafas baru untuk pembangunan ekonomi dan sosial di Kalimantan Timur dan sekitarnya.

“Saat ini kita sudah mulai fokus untuk mengembangkan kawasan pusat bisnis dan juga kegiatan ekonomi lainnya. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur perlu dilakukan dengan sangat cepat,” tuntas Silvia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau