Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penduduk IKN Hasilkan Sampah 250 Ton Per Hari, Ini Penanganannya

Kompas.com, 28 Juni 2024, 20:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Di mana air limbah domestik dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju IPAL untuk diolah secara terpadu dengan TPST sehingga menghasilkan influen yang memenuhi persyaratan baku mutu.

Standar dimaksud ditetapkan sebelum tahap daur ulang atau bercampur badan air/sungai, sehingga sejalan dengan prinsip IKN yakni smart forest city.

Baca juga: UPDATE Terkini Kantor Presiden di IKN, Progres 90 Persen

Sarana dan prasarana pengolahan air limbah ini akan memenuhi baku mutu air limbah Key Performance Indicator (KPI) yang ditetapkan dalam Basic Engineering Design (BED) dan sesuai visi pembangunan IKN.

IPAL yang terintegrasi dengan TPST bertujuan untuk mensinergikan pengelolaan sanitasi dalam satu lokasi sama.

Lumpur sedimentasi yang dihasilkan dari IPAL 1,2, dan 3 sebesar 15 ton/hari akan di olah di TPST 1, sedangkan residu/sisa pengolahannya akan diurug di Unit Pengurukan Residu (UPR) yang berjarak 14 km dari TPST 1.

Sementara untuk air lindi yang berasal dari TPST 1 akan diolah di IPAL 1 setelah dilakukan pengolahan pendahuluan di TPST 1.

Jajaki kerjasama dengan startup

Selain TPST, tengah dibangun juga Tempat Pembuangan Sampah Reuse, Reduce dan Recycle (TPS3R) yang bisa dimanfaatkan untuk melayani masyarakat di luar KIPP.

Namun demikian, lanjut Myrna, persoalan sampah ini diutamakan penyelesaiannya dari sumbernya terlebih dahulu, yakni rumah tangga.

Sementara TPS3R diarahkan untuk mulai memperkenalkan green jobs atau lapangan-lapangan kerja baru yang berbasis pada pengelolaan sampah.

Baca juga: Digunakan Jokowi Juli Ini, Kantor Presiden di IKN Terus Dikejar Penyelesaiannya

OIKN sudah mengidentifikasi jenis lapangan kerja berbasis TPS3R ini yang dapat menambah pendapatan warga sekitar.

Untuk itu, OIKN tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan-perusahaan rintisan (startup), termasuk dengan Ciro Waste, asal Kota Balikpapan.

"Kami sedang menjajaki ya, termasuk juga dengan teman-teman Cero Waste, kira-kira peran apa yang mereka bisa ambil. Tapi fasilitasnya kan sudah tersedia," tuntas Myrna.

Pada saat yang sama, Founder dan CEO Ciro Waste Sandy Wijaya menyambut baik inisiatif dari OIKN ini karena akan semakin menggiatkan ekonomi sirkulasi dari pengelolaan sampah di TPS3R.

Sebab, mengutip data Bappenas tahun 2021, potensi ekonomi sirkular dari pengelolaan sampah pada tahun 2030 mencapai Rp 600 triliun.

Baca juga: Sejak 2023, Pemerintah Sudah Bayar Lahan IKN Senilai Rp 2,6 Triliun

"Ini menjadi sebuah potensi nanti melihat IKN serba hijau, warga lokal harus ambil bagian di IKN," ucap Sandy.

Ciro Waste sendiri tengah menyiapkan aplikasi yang bisa diunduh melalui App Store dan Play Store yang bsia digunakan masyarkat.

Dengan aplikasi tersebut, masyarakat tinggal membuka gawai dan melihat jenis sampah yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kemudian, Ciro Waste akan menjemput sampah-sampah tersebut dan dari pengelolaan itu nanti, masyarakat akan mencapat cuan berupa saldo dalam bentum uang elektronik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau