Penulis
Selain itu, dengan menggunakan QRIS, transaksi menjadi lebih efisien karena dapat mengurangi biaya pengelolaan kas dan memudahkan pencatatan keuangan.
Dengan QRIS, Partini tidak perlu lagi repot mencari uang kecil untuk kembalian dan tidak lagi harus setor tunai hasil penjualan ke ATM/bank.
Baca juga: HIPMI Balikpapan Incar Proyek Konstruksi hingga F&B di IKN
Semua transaksi tercatat dengan baik, membuat pencatatan keuangan menjadi lebih mudah dan efisien.
Pun dengan keamanan transaksi. QRIS memberikan tingkat keamanan yang lebih tinggi dalam transaksi non-tunai.
"Saya tidak perlu khawatir tentang menerima uang palsu atau kehilangan uang tunai," cetusnya.
Partini dengan Sepaku Clothing-nya merupakan bagian dari pertumbuhan pengguna QRIS di Wilayah Kerja Bank Indonesia (BI) Balikpapan.
Menurut Kepala BI Perwakilan Balikpapan Robi Ariadi, volume QRIS hingga Juni 2024 di wilayah kerja BI Balikpapan adalah sebanyak 11.071.447 transaksi dengan total nominal Rp 1,67 triliun.
Rinciannya, Kabupaten Paser tercatat 449.574 transaksi dengan nominal Rp 62,18 miliar. Kemduain Kabupaten PPU mencapai 679.787 transaksi dengan nominal Rp 87,49 miliar.
Sedangkan Balikpapan sebanyak 9.942.086 transaksi dengan nominal transaksi menembus angka Rp 1,52 triliun.
Adapun secara Provinsi, Kalimantan Timur mencatat 760.563 pengguna, dan Nasional sebanyak 50.500.465 pengguna.
Robi mengatakan, bagi BI Perwakilan Balikpapan realisasi volume transaksi QRIS bulan Juni 2024 sudah tercapai dari angka yang ditargetkan tahun 2024 sebesar 10,5 juta pengguna.
Baca juga: Catat, Timeline Kereta Otonom Tanpa Rel Buatan China Mengaspal di IKN
Menurutnya, penggunaan QRIS di wilayah kerja BI Balikpapan akan terus tumbuh positif karena didukung oleh ekosistem transaksi non tunai yang telah terbentuk dengan baik.
"Baik pelakunya yang telah teredukasi, para tenant atau merchant yang well educated tentang keuntungan transaksi non tunai dan infrastruktur yang baik," tuntas Robi kepada Kompas.com.
Terkait dengan pembangunan IKN, Robi memproyeksikan jumlah pengguna, jumlah transaksi, maupun nominal transaksi akan meningkat.
Tidak saja di Kabupaten PPU sebagai lokasi IKN, melainkan juga di Paser dan Balikpapan sebagai penyangga IKN.
Hal ini seiring dengan penambahan jumlah pekerja konstruksi yang dikonsentrasikan untuk percepatan pembangunan, juga Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mulai relokasi pada September 2024.
"Selain itu, tentu saja para tamu, wisatawan, dan pebisnis yang beraktivitas di wilayah kerja BI Balikpapan," tuntas Robi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang