Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Peter Yogan Gandakusuma
Pengamat Perkotaan

Peter Yogan Gandakusuma meraih gelar Master of Science Regional Planning dari The University of Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Bersama sejumlah kolega, Peter tengah mengembangkan Center for Sustainable Development Studies (CSDS) Universitas Indonesia. CSDS merupakan pusat riset dan bagian dari Center for Strategic and Global Studies (CSGS), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Ibu Kota Nusantara, Pameran Pembangunan dan Relasi Kuasa

Kompas.com, 20 Oktober 2024, 11:47 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO dijadwalkan meresmikan Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pernyataan ini dipastikan oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan Istana Negara pada Jumat (11/10/2024).

Peresmian ini tentu dinilai sebagai tonggak penting dalam pembangunan Nusantara menuju pemindahan pusat pemerintahan.

Pertanyaannya, apa sejatinya keutamaan dan urgensi dari peresmian tersebut selain pameran kebijakan perencanaan yang lebih mengutamakan pembangunan fisik dan erat dengan mazhab ekonomi developmentalism?

Baca juga: IKN, Legacy Jokowi yang Sudah Tembus 58 Persen

Aliran pemikiran ideologi pembangunan ini percaya bahwa salah satu strategi untuk mencapai kemakmuran ekonomi adalah dengan memanfaatkan sumber daya luar seperti hutang luar negeri.

Implementasinya dalam manuver politik, ekonomi dan ideologi pembangunan tampaknya juga meningkat dengan sisi lain otoritarianisme pemerintahan di periode kedua mantan Presiden Jokowi.

Proyek politik ini juga mendikte otorita lokal atas nama kepentingan nasional. Proyek yang mencirikan pameran kuasa dan interaksi antara elite negara-elite konglomerat melalui simbol-simbol ideologi kenegaraan macam Istana Garuda yang sempat menjadi polemik pada bulan Agustus 2024 lalu.

Perilaku neoliberal birokratis ini juga berupaya memastikan bahwa masyarakat lokal mematuhi kebijakan nasional dan sering kali mengalahkan suara sumber daya lokal dalam memecahkan masalah.

Pengambilan keputusan teknokratis dan resep kebijakan dari atas ke bawah, bersama dengan pengawasan dan kontrol telah meminggirkan penduduk lokal, menggusur perlahan-lahan masyarakat adat dan merusak gagasan demokrasi berbasis adat, budaya dan desa.

Baca juga: Dubes Norwegia Apresiasi Pembangunan IKN

Usaha keras mantan Presiden Jokowi dengan membangun IKN adalah setara dengan kehendak memamerkan suatu pencapaian dan keberhasilan bangsa lewat pembangunan ibu kota baru, alih-alih merevolusi mental, membangun budi pekerti kebangsaan dan meninggikan kearifan lokal.

Pameran berasal dari bahasa Latin "exhibito" dan kata kerja pamer atau "exhibere" di mana ex yang berarti "keluar" dan "habere" yang berarti "menyajikan", memperlihatkan atau menyajikan sesuatu yang dapat disentuh atau dipegang.

Dengan demikian, pameran dapat dipahami sebagai suatu upaya untuk mengungkap sesuatu yang ada di dalam serta mengomunikasikan pesan, tema, atau konsep tertentu tadi keluar dengan maksud memperlihatkan keunggulan.

Tentu saja dalam relasi ini, IKN menjadi kebanggaan mantan Presiden Jokowi.  

Jika demikian, apa yang seharusnya dipamerkan? Mari kita urai.

IKN dirancang dengan tekad dapat mencapai 75 persen kawasannya dari total 252.600 hektar sebagai ruang hijau, nol deforestasi, konservasi bagi keanekaragaman hayati, dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau