
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO dijadwalkan meresmikan Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pernyataan ini dipastikan oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan Istana Negara pada Jumat (11/10/2024).
Peresmian ini tentu dinilai sebagai tonggak penting dalam pembangunan Nusantara menuju pemindahan pusat pemerintahan.
Pertanyaannya, apa sejatinya keutamaan dan urgensi dari peresmian tersebut selain pameran kebijakan perencanaan yang lebih mengutamakan pembangunan fisik dan erat dengan mazhab ekonomi developmentalism?
Baca juga: IKN, Legacy Jokowi yang Sudah Tembus 58 Persen
Aliran pemikiran ideologi pembangunan ini percaya bahwa salah satu strategi untuk mencapai kemakmuran ekonomi adalah dengan memanfaatkan sumber daya luar seperti hutang luar negeri.
Implementasinya dalam manuver politik, ekonomi dan ideologi pembangunan tampaknya juga meningkat dengan sisi lain otoritarianisme pemerintahan di periode kedua mantan Presiden Jokowi.
Proyek politik ini juga mendikte otorita lokal atas nama kepentingan nasional. Proyek yang mencirikan pameran kuasa dan interaksi antara elite negara-elite konglomerat melalui simbol-simbol ideologi kenegaraan macam Istana Garuda yang sempat menjadi polemik pada bulan Agustus 2024 lalu.
Perilaku neoliberal birokratis ini juga berupaya memastikan bahwa masyarakat lokal mematuhi kebijakan nasional dan sering kali mengalahkan suara sumber daya lokal dalam memecahkan masalah.
Pengambilan keputusan teknokratis dan resep kebijakan dari atas ke bawah, bersama dengan pengawasan dan kontrol telah meminggirkan penduduk lokal, menggusur perlahan-lahan masyarakat adat dan merusak gagasan demokrasi berbasis adat, budaya dan desa.
Baca juga: Dubes Norwegia Apresiasi Pembangunan IKN
Usaha keras mantan Presiden Jokowi dengan membangun IKN adalah setara dengan kehendak memamerkan suatu pencapaian dan keberhasilan bangsa lewat pembangunan ibu kota baru, alih-alih merevolusi mental, membangun budi pekerti kebangsaan dan meninggikan kearifan lokal.
Pameran berasal dari bahasa Latin "exhibito" dan kata kerja pamer atau "exhibere" di mana ex yang berarti "keluar" dan "habere" yang berarti "menyajikan", memperlihatkan atau menyajikan sesuatu yang dapat disentuh atau dipegang.
Dengan demikian, pameran dapat dipahami sebagai suatu upaya untuk mengungkap sesuatu yang ada di dalam serta mengomunikasikan pesan, tema, atau konsep tertentu tadi keluar dengan maksud memperlihatkan keunggulan.
Tentu saja dalam relasi ini, IKN menjadi kebanggaan mantan Presiden Jokowi.
Jika demikian, apa yang seharusnya dipamerkan? Mari kita urai.
IKN dirancang dengan tekad dapat mencapai 75 persen kawasannya dari total 252.600 hektar sebagai ruang hijau, nol deforestasi, konservasi bagi keanekaragaman hayati, dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya