Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pisau Bedah IAI: Koreksi Prabowo atas Desain IKN untuk Investasi Iklim

Kompas.com, 17 Januari 2026, 14:47 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) kini dinggap bukan lagi sekadar narasi pemindahan pusat gravitasi ekonomi dan administrasi.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, IKN memasuki fase "pendewasaan desain" yang lebih adaptif.

Sebuah pergeseran paradigma sedang terjadi: dari ambisi kemegahan fisik menuju urgensi ketahanan iklim yang berbasis pada kecerdasan ekologis.

Baca juga: Mengapa IKN Disebut Pakar Kebijakan Publik Amerika Proyek Ambisius?

Intervensi Presiden terkait desain Kompleks Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif pun memicu diskursus menarik di ruang publik, politik, maupun kalangan profesional.

Banyak yang bertanya: Apakah ini merupakan interupsi terhadap hasil sayembara yang sudah final, atau justru sebuah langkah visioner untuk memastikan IKN tidak menjadi "hutan beton" yang gagal bernapas?

Desain Sebagai Organisme yang Berevolusi

Secara historis, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN adalah produk intelektual dari sayembara arsitektur Nasional tahun 2022.

Desain tersebut telah melewati kurasi ketat hingga mencapai tahap Detail Engineering Design (DED).

Namun, arsitektur di level ibu kota negara tidak pernah bersifat final hingga ia benar-benar mampu merespons tantangan tapaknya.

Baca juga: Apa Ibu Kota Indonesia, Jakarta atau IKN?

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ar. Georgius Budi Yulianto, IAI., AA, atau yang akrab disapa Boegar, memberikan perspektif akademik yang mencerahkan.

Baginya, langkah Presiden Prabowo bukanlah sebuah pembatalan, melainkan penyempurnaan yang esensial.

Boegar juga menekankan, dalam perspektif perencanaan kota, desain IKN tidak boleh kaku atau statis. Ia harus adaptif terhadap tantangan ekologis nyata.

"Permintaan Presiden untuk menambah area hijau dan embung harus dipahami sebagai upaya sinkronisasi antara desain bangunan dengan mitigasi tantangan mikroklimat ekstrem di Kalimantan," ujar Boegar saat dihubungi Kompas.com, pada Sabtu (17/01/2026).

Mitigasi Karhutla sebagai Benteng Ekologis

Koreksi atas desain yang diminta Presiden Prabowo berakar pada realitas geografis. Sebagaimana diketahui, Kalimantan memiliki karakteristik lanskap berhutan yang rentan terhadap kekeringan musiman dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam keterangannya di Istana Kepresidenan Jakarta (Kamis, 15/01/2026).

Baca juga: Otorita IKN Gusur 39 Lapak Besi Tua dan 18 Lapo Tuak Ilegal

Dia menegaskan bahwa Presiden sangat memperhatikan detail dan fungsi. Penambahan embung bukan sekadar elemen estetika lanskap, melainkan bertujuan untuk menciptakan cadangan air alami dan menyeimbangkan iklim mikro.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau