Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru Besar Undip: Tanpa Kultur Merawat, Forest City IKN Bisa Bubar

Kompas.com, 21 Januari 2026, 23:22 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Sejak pancang pertama ditanam di tanah Kalimantan Timur, Ibu Kota Nusantara (IKN) kini bukan lagi sekadar narasi di atas kertas cetak biru.

Infrastruktur dasar telah berdiri tegak, konektivitas mulai terjalin, dan fasilitas publik mulai menampakkan fasad modernitasnya.

Baca juga: Rusun IKN Dipasangi Smart Metering, ASN Bisa Kontrol Pemakaian Listrik dan Air

Namun, di tengah akselerasi pembangunan fisik yang masif, muncul sebuah diskursus mengenai esensi dan standar kualitas: apakah IKN akan berakhir sebagai kota administratif biasa, atau ia mampu bertransformasi menjadi mercu suar peradaban urban global yang berkelanjutan?

Guru Besar Planologi Universitas Diponegoro (Undip) sekaligus Dekan Cities and Local Government Institute (CLGI), Bambang Susantono, memberikan refleksi mendalam mengenai arah kemudi pembangunan ini.

Baginya, tantangan terbesar IKN bukan terletak pada kecepatan pembângunan fisik, melainkan pada konsistensi menjaga standar yang telah dicanangkan sejak awal.

Baca juga: Apa Ibu Kota Indonesia, Jakarta atau IKN?

IKN dirancang dengan standar yang jauh melampaui kota-kota lain di Indonesia, sebuah ambisi yang menuntut keteguhan visi agar tidak luruh menjadi sekadar replikasi kota konvensional.

"Tentu pertanyaan mendasarnya adalah apakah kota ini akan sekadar menjadi kota yang sama dengan yang lain? Atau akan berupaya mengikuti standar-standar yang sudah dicanangkan pada awalnya sehingga dapat menjadi kota referensi di Indonesia yang hijau, cerdas, namun tetap inklusif," ujar Bambang kepada Kompas.com, Selasa (20/1/2026).

Rentan Bencana

Salah satu tantangan paling nyata dalam mewujudkan konsep Forest City adalah kerentanan terhadap bencana alam, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bambang mengungkapkan bahwa isu ini telah menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Baca juga: Mengapa IKN Disebut Pakar Kebijakan Publik Amerika Proyek Ambisius?

Dalam kacamata planologi, luasnya area hijau yang mencapai 65 persen dari total wilayah IKN menuntut sebuah sistem ketahanan kota (city resiliency) yang komprehensif.

Implementasi kota hutan tidak boleh berhenti pada aspek estetika hijau semata. Bambang menekankan perlunya integrasi antara infrastruktur fisik (hardware) dan sistem digital (software).

Secara fisik, IKN memerlukan jaringan embung atau reservoir yang strategis, Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai area penyangga, serta peralatan pemadam kebakaran mutakhir.

Namun, semua itu akan pincang tanpa dukungan Smart Urban Fire Management, sebuah sistem cerdas yang mampu mendeteksi dan menanggulangi potensi api secara dini.

Terlebih lagi, di atas kecanggihan teknologi dan kemegahan infrastruktur, Bambang juga menegaskan bahwa keberlanjutan IKN bergantung sepenuhnya pada kesinergian tiga pilar utama: People, Nature, dan Culture.

Baca juga: Revisi Desain IKN: Antara Resiliensi Iklim dan Pembengkakan Biaya

Ketiganya merupakan fondasi eksistensial yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tanpa integrasi manusia yang sadar akan lingkungan dan budaya yang merawat alam, visi kota hutan berisiko mengalami kegagalan struktural.

"Ini yang saya sering sebut bahwa IKN butuh tiga pilar utama: people, nature, dan culture. Kalau manusianya tidak sadar bencana dengan kultur yang melindungi dan merawat hutan, maka konsep forest city bisa bubar," tegas Bambang.

Proyek Kebudayaan

Pesan ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pembangunan IKN adalah sebuah proyek kebudayaan, bukan sekadar proyek konstruksi.

Transformasi perilaku warga dan pengunjung untuk memiliki kesadaran mitigasi bencana menjadi kunci utama.

Baca juga: IKN dan Daerah Mitra Jadi Superhub Ekonomi, Payung Hukum Digodok

IKN diharapkan tidak hanya menjadi pusat gravitasi ekonomi baru, tetapi juga menjadi laboratorium hidup di mana manusia, alam, dan budaya berinteraksi dalam harmoni yang cerdas dan inklusif.

"Standar tinggi yang telah ditetapkan harus tetap menjadi kompas agar IKN benar-benar menjadi kota referensi masa depan, bukan sekadar catatan sejarah tentang pembangunan fisik yang kehilangan jiwanya," tuntas Bambang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau