Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Di tengah transformasi besar Kalimantan Timur sebagai titik tumpu gravitasi ekonomi baru nasional, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan menegaskan perannya sebagai jangkar stabilitas.
Memasuki tahun 2026, otoritas moneter di wilayah ini meluncurkan peta jalan komprehensif yang mengawinkan pengendalian inflasi progresif dengan penguatan ekonomi kerakyatan yang inklusif.
Baca juga: Strategi BI Kaltim Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tekan Ketergantungan Batubara
Meliputi wilayah kerja strategis yang mencakup Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser, BI Balikpapan menyadari bahwa posisinya kini berada di garis depan pertumbuhan nasional.
Sinergi lintas sektor menjadi harga mati untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.
Stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama BI Balikpapan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, Robi Ariadi, menekankan bahwa efektivitas pengendalian inflasi sangat bergantung pada sinkronisasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
"Sinergi dan kolaborasi akan terus diperkuat bersama berbagai mitra utama yang tergabung dalam TPID. Fokus kita adalah pada implementasi program nyata seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Operasi Pasar yang lebih intensif, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN)," tutur Robi, dikutip Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS Tap
Lebih dari sekadar pasar murah, BI Balikpapan masuk ke ranah hulu dengan memfasilitasi sarana prasarana produksi bagi kelompok tani dan peternak.
Langkah strategis lainnya adalah penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD). Dengan menghubungkan daerah sentra produksi langsung ke distributor di Balikpapan, BI berupaya memotong rantai pasok yang panjang, sehingga harga pangan di level konsumen tetap terkendali.
Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pemberdayaan UMKM menjadi mesin penggerak utama.
BI Balikpapan tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mendorong transformasi digital dan akuntabilitas keuangan melalui aplikasi SIAPIK.
Program unggulan di tahun 2026 mencakup penguatan kualitas produk wastra dan batik melalui workshop Ready to Fashion.
Baca juga: Alarm Merah Inflasi IKN Berbunyi, BI Kaltim Siapkan Jurus 4K
BI melihat potensi besar pada produk kreatif daerah untuk menembus pasar internasional. Bekerja sama dengan Export Center Provinsi Kaltim, BI memfasilitasi business matching dan pitching untuk mempertemukan pelaku usaha lokal dengan pembeli (buyer) mancanegara.
"Kami ingin UMKM kita naik kelas. Tidak hanya jago di kandang, tapi punya daya saing global. Oleh karena itu, kurasi oleh tenaga ahli menjadi prasyarat mutlak sebelum mereka dipertemukan dengan pasar ritel modern maupun pembeli luar negeri," tambah Robi.
Visi inklusivitas BI Balikpapan juga menyentuh aspek ekonomi syariah. Melalui pengembangan ekosistem halal dan pemberdayaan ekonomi pesantren, BI berupaya menciptakan kemandirian finansial di lingkungan pendidikan agama.