Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada Kolam Renang Olympic Size 50 Meter di Istana Wakil Presiden IKN

Kompas.com, 1 Februari 2026, 05:30 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Di jantung Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah simbol kemegahan baru mulai menampakkan wujud akhirnya.

Istana Wakil Presiden (Wapres) kini menjadi sorotan setelah terungkapnya fasilitas olahraga kelas dunia yang terintegrasi di dalam areanya, yakni sebuah kolam renang berstandar Olimpiade atau olympic size sepanjang 50 meter.

Baca juga: IKN Siap Tampung Pemindahan Tahap Awal ASN dari 16 Kementerian/Lembaga

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, membeberkan, progres fisik kompleks hunian dan kantor orang nomor dua di Indonesia tersebut kini telah mencapai titik puncak.

Sentuhan Personal dan Standar Internasional

Kabar mengenai fasilitas kolam renang ini mencuat saat Basuki menceritakan kesan dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terhadap calon kantor barunya.

"Olympic size, 50 meter," tambah Basuki.

Kehadiran kolam renang ini bukan tanpa alasan. Selain sebagai sarana olahraga, secara arsitektural, elemen air seringkali digunakan untuk memberikan kesejukan alami di tengah iklim tropis Kalimantan yang lembap.

Baca juga: Keistimewaan Cerlang Nusantara IKN yang Bikin Dewan Juri Jatuh Cinta

Menurut Basuki, tidak ada catatan khusus atau keluhan dari sang Wapres. Sebaliknya, ada apresiasi terhadap fasilitas yang tersedia.

"Tidak ada catatan khusus. Bapak Wapres sudah merasa cocok, ada kolam renang di dalam. Ibu (Selvi Ananda) juga kemarin ke sini," ujar Basuki menjawab Kompas.com, Jumat (31/1/2026).

Arsitektur Huma Betang Umai: Modernitas dalam Tradisi

Di balik kemewahan fasilitasnya, Istana Wapres IKN mengusung filosofi desain yang mendalam, yakni Huma Betang Umai.

Secara harfiah, desain ini terinspirasi dari rumah panjang khas suku Dayak (Rumah Betang) yang dimaknai sebagai "Rumah Ibu".

Baca juga: Menteri Agama Dijadwalkan Salat Tarawih Perdana di Masjid Negara IKN

Sementara secara teknis, arsitektur ini menggabungkan prinsip keberlanjutan dan kerukunan, di mana ruang terbuka mengadopsi pola hunian komunal Dayak yang mengutamakan ruang bersama dan transparansi.

Kemudian desain atap dan aliran udara dirancang untuk meminimalkan penggunaan energi, serupa dengan konsep rumah panggung yang mengizinkan sirkulasi udara di bawah bangunan.

Adapun simbolisme "Umai" atau Ibu melambangkan perlindungan, pengayoman, dan kasih sayang, mencerminkan peran wapres sebagai sosok yang merangkul seluruh lapisan rakyat.

Menanti Ketukan Palu Peresmian

Meski secara fisik bangunan sudah mencapai 100 persen, Basuki menjelaskan bahwa tantangan berikutnya ada pada pengisian interior atau furnitur yang merupakan tanggung jawab Sekretariat Negara (Setneg).

"Progres fisiknya sudah selesai. Sekarang tinggal furniturnya. Kalau furnitur Istana Presiden dan Istana Wapres itu tanggung jawab Sesneg. Tergantung kalau furniture-nya belum siap, harus ada pengadaan lewat lelang, itu kan 45 hari," jelas pria yang akrab disapa Pak Bas tersebut.

Baca juga: IKN Bakal Punya Concert Hall Kelas Dunia, Mulai Dibangun 2027

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau