Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 23 Mei 2026, 19:35 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, memicu pertumbuhan aktivitas ekonomi baru di wilayah penyangga, khususnya Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.

Lonjakan jumlah penduduk dan pekerja konstruksi di kawasan inti pemerintahan menciptakan permintaan domestik yang besar terhadap pasokan pangan serta produk industri kreatif.

Kondisi ini menuntut kesiapan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah arus modal skala besar.

Baca juga: BI Balikpapan Perkuat Ekonomi Syariah di Penyangga IKN via PESAN 2026

Struktur ekonomi regional menempatkan UMKM sebagai sektor dengan daya serap tenaga kerja tertinggi.

Namun, keterbatasan akses pembiayaan formal, rantai pasok yang tidak efisien, serta rendahnya literasi digital hulu masih menjadi hambatan struktural utama.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan mengeksekusi sejumlah program intervensi modal dan pengetahuan guna mendorong standarisasi kualitas produk lokal agar mampu menembus pasar digital serta rantai pasok internasional.

Ekosistem Digital dan Mitigasi Inflasi Pangan

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menuturkan, langkah digitalisasi pasar dimulai melalui program DIGDAYA UMKM yang resmi berjalan sejak 20 Mei 2026.

Dari total 160 unit usaha yang diusulkan oleh Otorita IKN, pemerintah daerah, dan korporasi pembina, Bank Indonesia menetapkan 45 UMKM terpilih melalui proses kurasi yang ketat.

"Pendekatan program ini diubah dari sekadar pelatihan massal menjadi pendampingan spesifik. Sepanjang Mei hingga Juni 2026, peserta mengikuti one-on-one session untuk menyelesaikan hambatan operasional masing-masing unit usaha," ungkap Robi, Sabtu (23/5/2026).

Selanjutnya, fase monitoring berkala dilakukan dari Juli hingga Oktober 2026 untuk memastikan tingkat adaptasi teknologi berjalan konsisten hingga menghasilkan transaksi digital yang stabil.

Baca juga: Strategi BI Balikpapan Dorong UMKM Penyangga IKN Naik Kelas

Di sektor hulu pertanian, BI Balikpapan memprioritaskan pengendalian inflasi daerah melalui klaster ketahanan pangan.

Melalui program TANI CAMP, para petani diberikan transfer pengetahuan mengenai *Good Agricultural Practice (GAP) dan integrasi tata kelola pascapanen.

Robi menambahkan, kerja sama ini didukung dengan pemberian fasilitas sarana prasarana produksi untuk memotong biaya logistik yang kerap memicu lonjakan harga pangan di wilayah IKN.

Menembus Hambatan Pembiayaan Lewat Sistem BISAID

Faktor utama yang menghambat UMKM naik kelas adalah kategori ketidaklayakan bank (unbankable).

Lembaga keuangan formal sering kali menolak pengajuan kredit akibat ketiadaan laporan keuangan yang terstruktur.

"Untuk menjembatani masalah tersebut, BI Balikpapan mengandalkan program Survei Database Profil Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Potensial Dibiayai (BISAID)," cetus Robi.

Baca juga: China, Singapura, Korea, Rusia, Malaysia hingga UEA Investasi di IKN

Data dari survei BISAID berfungsi sebagai jembatan informasi (business matching) yang mempertemukan profil UMKM potensial dengan pihak perbankan serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Validasi data ini memberikan kepastian bagi bank dalam menyalurkan pembiayaan, sekaligus mengedukasi pelaku usaha mengenai manajemen risiko dan tata kelola modal.

Untuk memperluas jaringan pasar fisik, BI menyiapkan dua kegiatan utama: Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) pada 27-28 Juni 2026 dan Mahligai Nusantara pada September 2026.

Di dalam rangkaian acara tersebut, pelaku usaha diberikan pelatihan standarisasi kemasan serta pengurusan merek halal guna mempersiapkan produk lokal bersaing di pasar luar daerah.

Komoditas Unggulan

Indikator keberhasilan standarisasi ini terlihat dari masuknya tiga UMKM binaan BI Balikpapan ke dalam jaringan Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) 2026.

Unit usaha Hharum dan Rumah Ampiek lolos pada sektor modest fashion (wastra), sementara Kampoeng Timoer berhasil menembus kategori halal food.

Kelulusan melalui proses seleksi nasional yang kompetitif ini membuktikan bahwa produk penyangga ibu kota memiliki keandalan kualitas yang setara dengan produk pulau Jawa.

Baca juga: Komitmen Investasi Non-APBN di IKN Tembus Rp 72,39 Triliun

"Potensi industri hilir juga ditunjukkan pada sektor komoditas kopi. Dalam ajang Kompetisi Cangkir Barista "Championship Pejuang Kopi Nusantara” yang diikuti oleh 419 peserta secara nasional, tiga barista asal wilayah kerja Balikpapan, PPU, dan Paser berhasil melaju ke babak regional Kalimantan setelah melalui pembekalan teknis di daerah," ungkap Robi.

Pertumbuhan masif kawasan IKN pada tahun 2026 ini harus diikuti oleh penguatan kapasitas ekonomi warga lokal.

Sinergi program intervensi dari hulu pertanian hingga hilir digitalisasi pembayaran bukan lagi sekadar program pemberdayaan, melainkan keharusan strategi ekonomi.

Ketahanan ekonomi ibu kota baru tidak akan tercapai jika fondasi UMKM di wilayah penyangganya rapuh dan gagal beradaptasi dengan sistem pasar modern.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau