Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelajaran Berharga dari Kegagalan Kereta Tanpa Rel China di IKN

Kompas.com, 1 Mei 2025, 11:10 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Uji coba atau Proof of Concept (PoC) Autonomous Rail Transit (ART), kereta tanpa rel buatan China dari CRRC Qingdao Sifang, di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Agustus–Oktober 2024 berakhir dengan kegagalan.

Setelah evaluasi ketat, kereta tanpa rel ini tidak mampu beroperasi secara otonom dan dikembalikan ke China pada 29 April 2025.

Meski mengecewakan, kegagalan ini memberikan pelajaran berharga bagi Otorita IKN dalam mewujudkan visi smart mobility untuk kota cerdas yang hijau dan berkelanjutan.

Baca juga: Akhirnya, Kereta Tanpa Rel yang Sempat Mengaspal di IKN Balik ke China

Berikut catatan Kompas.com yang dihimpun berdasarkan hasil wawancara khusus bersama Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Mohammed Ali Berawi, atau akrab disapa Ale dan para pakar dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

1. Pentingnya Adaptasi Teknologi dengan Kondisi Lokal

Salah satu kelemahan utama kereta tanpa rel adalah ketidaksiapan sistem otonomnya untuk beroperasi di lingkungan mixed traffic IKN, di mana jalur uji coba digunakan bersama kendaraan lain.

Sistem sensor dan Artificial Intelligent (AI) kereta tanpa rel tidak diadaptasi sepenuhnya untuk kondisi jalan yang masih dalam tahap pembangunan, seperti permukaan tidak rata atau gangguan dari kendaraan konstruksi.

Di China, ART beroperasi di jalur khusus dengan infrastruktur matang, sedangkan IKN memiliki dinamika berbeda.

Baca juga: Serba Cerdas, MaaS Mudahkan Warga IKN Naik Transum Tanpa Ribet

Teknologi impor harus melalui proses adaptasi lokal yang menyeluruh, termasuk pengujian di kondisi nyata dan penyesuaian dengan iklim tropis, topografi, serta pola lalu lintas IKN.

Kolaborasi dengan lembaga riset lokal, seperti UI, ITB, atau ITS, dapat memastikan teknologi sesuai dengan kebutuhan spesifik Nusantara.

2. Evaluasi Ketat sebagai Filter Teknologi Terbaik

Otorita IKN menerapkan evaluasi independen oleh pakar transportasi dan asosiasi profesional, dengan empat pilar penilaian: kualitas teknologi, interoperabilitas, nilai ekonomis, dan transfer teknologi.

ART gagal karena sistem otonomnya tidak andal, pengereman tidak responsif, dan kurang mendukung operasi dua arah (bidirectional).

Biaya tinggi (estimasi Rp 70 miliar per unit) juga dinilai tidak sebanding dengan performa sebagai advanced electric bus.

Baca juga: Menakar Nasib Taksi Terbang IKN Ketika Tokoh Sentralnya Mengundurkan Diri

Pendekatan living laboratory IKN, yang mengevaluasi teknologi secara ketat melalui Proof of Concept (PoC), terbukti efektif untuk menyaring teknologi yang belum matang.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau