Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Di tengah ambisi besar pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Sepaku, Kalimantan Timur, sebuah isu sosial pelik menyeruak ke permukaan, bahkan hingga ke Gedung DPR/MPR RI.
Praktik prostitusi di IKN, khususnya yang berbasis daring, menjadi bayang-bayang kelam di balik gemerlap megaproyek strategis nasional ini.
Sorotan dari parlemen hingga pengakuan di lapangan mengonfirmasi bahwa fenomena ini adalah realitas yang tak terhindarkan seiring masuknya ribuan pekerja konstruksi.
Baca juga: Otorita Tegaskan Tak Ada ASN yang Terlibat Prostitusi di IKN
Anggota Komisi II DPR, Muhammad Khozin, secara terbuka mengungkit maraknya penyakit masyarakat ini dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi II DPR RI pada Selasa (8/7/2025).
Unggahan dan pemberitaan mengenai praktik prostitusi daring yang tumbuh subur di sekitar IKN dianggap meresahkan.
Praktik "open BO" (booking online) melalui aplikasi kencan memang telah menjamur sejak pembangunan Tahap I IKN periode 2022-2024 digulirkan, seiring dengan kedatangan sekitar 27.000 pekerja konstruksi dari berbagai daerah.
Para pekerja yang jauh dari keluarga dan membutuhkan media pelampiasan aktivitas seksual menjadi target utama.
Fakta di lapangan memperkuat kekhawatiran ini. Sahari, pemilik guest house di Desa Bumi Harapan, Sepaku, mengakui keberadaan praktik prostitusi sejak pembangunan IKN dimulai.
Kepada Kompas.com, Rabu (9/7/2025), Sahari mengatakan bahwa para pelaku bukan warga lokal, melainkan pendatang.
"Sebelum ada IKN, Bumi Harapan relatif 'bersih' dari transaksi seksual. Ada, baru-baru ini saja," cetusnya, mengonfirmasi bahwa praktik ini sudah menjadi rahasia umum.
Baca juga: 8 Warung Prostitusi Dekat IKN Sudah Ditertibkan
Laporan TribunKaltim, bahkan memerinci tarif yang ditawarkan dalam transaksi seks ini berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 700.000 untuk sekali pertemuan dengan layanan penuh.
Lokasi eksekusi adalah warung remang-remang dan guest house di Desa Bumi Harapan dan sekitarnya, dengan tarif sewa Rp 350.000 hingga Rp 400.000 per malam.
Beberapa pekerja seks komersial (PSK) yang ditemui mengakui tingginya permintaan, bahkan bisa melayani belasan tamu sehari.
"Kadang bisa 10 orang sehari, capek sih, tapi duitnya juga lumayan," kata seorang PSK.
Mayoritas klien mereka adalah pekerja pendatang dari luar Kalimantan, dan jarang melibatkan warga lokal.
Baca juga: Rumah Tapak Jabatan Menteri di IKN Bertambah, Dibangun Intiland