Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 5 Desember 2025, 22:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) selama ini identik dengan gambar-gambar konstruksi baja, beton modern, dan ambisi teknologi yang menjulang tinggi.

Namun, kini, sebuah pemandangan yang lebih lembut dan organik mulai mendominasi lanskap: bermekarannya bunga bougainvillea atau kembang kortas.

Baca juga: Akselerasi Jantung Kekuasaan IKN: 8 Kontrak Mega Project Diteken

Di kawasan strategis dan bersejarah, tepat di seberang Istana Garuda dan Istana Negara, hamparan bunga bougainvillea berwarna lilac kini berkembang, menghiasi area yang dikenal sebagai Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Kehadiran bunga-bunga ini bukan sekadar pemanis, melainkan sebuah pernyataan visual yang kuat, bahwa IKN bukan hanya tentang hutan beton dan pemerintahan, tetapi juga tentang kehidupan yang berakar pada keindahan alam.

Grande di Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Grande di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Kontras yang Memukau

Bougenvillea yang diabadikan Kompas.com, Kamis (4/12/2025), menampakkan keindahan kelopak lilac setipis kertas yang kontras dengan latar belakang arsitektur modern dan megah.

Di satu sisi, tegak berdiri siluet Istana Garuda yang futuristik, melambangkan kedaulatan dan kemajuan teknologi.

Di sisi lain, bougainvillea lilac menawarkan kontras yang lembut dan organik, mengingatkan pada visi IKN sebagai sustainable forest city.

Perpaduan ini menciptakan sebuah narasi baru: kekuasaan politik dan administrasi akan berdenyut di tengah kota yang ramah pejalan kaki, asri, dan lestari.

Baca juga: Membedah Desain Green Building DPR RI di IKN Senilai Rp 1,84 Triliun

Kembang-kembang setaman yang kini tumbuh subur, menjadi simbol bahwa desain IKN tidak mengorbankan elemen natural, melainkan mengintegrasikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari infrastruktur kota.

"Kontras tapi indah, panorama yang jarang ditemukan di kota-kota lain. Saya berkunjung ke sini, karena pengen lihat bunga-bunga ini bermekaran," ujar Sri Astrutik, warga Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Penataan lanskap Grande di Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Penataan lanskap Grande di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Bougainvillea, Simbol Ketahanan dan Estetika Tropis

Pemilihan bougainvillea sebagai tanaman penghias jalan dan taman utama di KIPP adalah keputusan yang cerdas dan strategis.

Bunga ini, selain indah, dikenal karena sifatnya yang tahan banting dan mudah beradaptasi dengan iklim tropis yang ekstrem.

Tanaman ini mampu tumbuh subur dengan paparan sinar matahari penuh dan tidak memerlukan perawatan yang rumit, sebuah analogi sempurna untuk ketahanan kota baru Indonesia.

Baca juga: Narasi Senyap Keadilan Tanah di IKN, dan Jaminan Negara 10 Tahun

Kehadiran bougainvillea lilac secara masif di sepanjang jalan lebar, jalur pejalan kaki, dan jalur sepeda KIPP memberikan beberapa dampak signifikan.

Di antaranya peningkatan visual aesthetics dengan emberikan warna kontras yang dramatis dan menjadikannya latar belakang Instagrammable yang menarik minat publik untuk berkunjung.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau